Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Investor Profit Taking, IHSG Diproyeksi Melemah Terbatas di Akhir Peka

Layar yang menampilkan gerak IHSG. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Layar yang menampilkan gerak IHSG. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan terkoreksi pada Jumat (9/1), setelah sempat mencetak all time high intraday di level 9.002 pada perdagangan Kamis (8/1).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG berpeluang melemah secara terbatas dengan support di 8.895-8.910 dan resisten antara 8.985-8.995.

"Sembari menunggu rilis data consumer confidence domestik serta data AS seperti non-farm payrolls dan unemployment rate," kata Reza dalam riset hariannya.

Daftar saham yang ia soroti pada perdagangan hari ini, terdiri dari: ENRG, MINA, dan LEAD.

Sebelumnya, kemarin IHSG ditutup menurun 0,22 persen ke level 8.925 walaupun masih mencatatkan net foreign buy senilai Rp543 miliar. Pelemahan itu dipicu aksi pengambilan keuntungan, ketidakpastian global, serta defisit APBN 2025 yang melampaui target.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai, secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG berada di area overbought dan berpotensi membentuk death cross. IHSG jjuga membentuk pola shooting star yang mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli selama beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi baru.

"Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi teknikal menguji level 8.850-8.900," kata tim riset Phintraco Sekuritas.

Dari segi sentimen, nilai tukar rupiah berlanjut melemah pada level Rp16.785 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot (8/1), yang didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta defisit APBN 2025 yang lebih besar dari target.

Defisit APBN mencapai Rp695,1 triliun per Desember 2025 atau setara 2,92 persen dari PDB, lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3 persen dari PDB dan melampaui target defisit APBN 2025 yang sebesar 2,53 persen dari PDB. Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai 91,7 persen dari target dan realisasi belanja negara sebesar 96,3 persen dari anggaran. 

Data cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$156,5 miliar pada Desember 2025 dari US$150,1 miliar pada November 2025 (8/1). Kenaikan itu terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri. Selanjutnya investor akan menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif (9/1). 

Daftar saham pilihan Phintraco Sekuritas hari ini, yakni: UNVR, ACES, SMDR, BKSL, dan SIDO.

Share
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Revisi Aturan Batas Minimal Free Float: Rilis 2026, Penerapan Bertahap

09 Jan 2026, 18:06 WIBMarket