Harga Saham EMAS Melejit 11,36% Menyusul Inklusi ke Indeks GDXJ Maret

- Tiga saham emas Indonesia—EMAS, ARCI, dan PSAB—resmi masuk ke indeks global GDXJ yang dikelola Market Vectors Index Solutions dan akan efektif berlaku pada 20 Maret 2026.
- Pasca-pengumuman, harga saham EMAS melonjak 11,36 persen menjadi Rp8.575, sementara ARCI naik 2,18 persen dan PSAB menguat 2,04 persen di sesi perdagangan Senin.
- Riset pasar memprediksi EMAS berpotensi menerima inflow hingga US$66 juta atau 4,5 kali volume harian rata-rata setelah inklusi ke GDXJ.
Jakarta, FORTUNE - Tiga saham emiten emas Indonesia masuk ke dalam indeks global GDXJ (Global Junior Gold Miners Index). Ketiganya adalah saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).
Hal itu diumumkan oleh Market Vectors Index Solutions, indeks yang menjadi benchmark firma manajer investasi VanEck. Hasil evaluasi indeks GDXJ dan Global Gold Miners Index (GDX) itu akan efektif pada 20 Maret 2026.
"Evaluasi konstituen GDX selanjutnya akan diumumkan pada 12 Juni 2026 dengan tanggal efektif 19 Juni 2026. Sementara itu, pengumuman evaluasi GDXJ [dilakukan] pada 11 September 2026 dengan tanggal efektif 18 September 2026," demikian dikutip dari riset Stockbit Sekuritas, Senin (16/3).
Pasca-pengumuman, ketiga saham tersebut pun menguat pada akhir perdagangan Senin sesi I, yang mana saham EMAS mencatat kenaikan harga tertinggi.
Dikutip dari IDX Mobile, saham EMAS melejit 11,36 persen ke harga Rp8.575; ARCI menguat 2,18 persen ke Rp1.640; dan PSAB yang harganya naik 2,04 persen ke Rp500.
Potensi inflow
Masuknya saham-saham tersebut ke indeks GDXJ memberikan sejumlah dampak positif. Dalam riset yang Fortune Indonesia terima pada Senin pagi, pengamat pasar modal memperkirakan EMAS berpotensi menerima aliran dana masuk (inflow) senilai US$66 juta atau 4,5 kali dari rata-rata volume trading harian (average daily trading volume/ADTV).
Sementara itu, ARCI diprediksi mendapat aliran dana masuk sebesar US$12 juta atau 0,8 kali ADTV.
"Untuk GDX, kami yakin EMAS akan menjadi satu-satunya saham Indonesia yang berpotensi [masuk], tetapi inklusi sebelumnya menunjukkan kapitalisasi pasar free float harus lebih tinggi dari sekitar US$3 miliar," demikian dikutip dari riset tersebut.
Berdasarkan riset tersebut, untuk masuk ke dalam indeks tersebut, emiten mungkin tidak perlu menunjukkan kontribusi pendapatan 50 persen dari pertambangan emas dan perak. Sebab, terdapat 3 perusahaan tambang GDXJ yang masuk ke dalam indeks walaupun tidak mencatatkan pendapatan dari emas dan perak.
EMAS belum lama ini mengumumkan dimulainya first gold pour di proyek tambang emas Pani. "Jika kita menggunakan [contoh] Meeka Metals, yang masuk ke GDXJ pada kuartal-III 2025, pengumuman yang menunjukkan bahwa produksi emas telah dimulai sudah cukup untuk membuktikan EMAS pantas masuk ke GDXJ sebagai penambang emas atau perak," katanya.
Ia juga menilai, EMAS berpeluang besar masuk ke indeks MSCI Indonesia pada Mei 2026. Bahkan jika itu turut memperhitungkan metodologi penghitungan free float baru.
"Akan tetapi, probabilitas inklusi MSCI untuk saham Indonesia manapun disebut akan relatif kecil pada Mei 2026, mengingat situasi MSCI saat ini," ujarnya.















