Jakarta, FORTUNE - Saham IBM anjlok 25,21 persen ke harga US$217,07 pada perdagangan pra-pasar, Selasa (14/7), waktu New York. Koreksi saham IBM itu mengurangi hampir US$70 miliar pada kapitalisasi pasar IBM. Itu merupakan aksi jual tertinggi saham IBM oleh investor setidaknya sejak 1972 menurut Trading View.
Koreksi saham tersebut sejalan dengan melesetnya kinerja perusahaan pada kuartal-II 2026. CEO IBM, Arvind Krishna, mengakui IBM mengalami penurunan kinerja pada kuartal-II karena pelanggan mengalihkan pengeluaran ke server dan penyimpanan AI, bukan ke sistem mainframe tradisional perusahaan. Hal tersebut mempengaruhi pola pembelian klien.
Sebelumnya, IBM memproyeksikan permintaan lebih kuat untuk sistem mainframe perusahaan, tetapi sejumlah kesepakatan besar gagal selesai sesuai jadwal. "Meskipun kami mengantisipasi beberapa dampak terkait rantai pasokan dalam proyeksi, kami tidak mengantisipasi besarnya pengalihan prioritas belanja modal tersebut," kata Krishna, sebagaimana dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (17/7).
Selain itu, klien juga disebut terganggu oleh kekhawatiran keamanan siber yang berkembang pesat di seluruh industri pada kuartal-II 2026.
Sebagai konteks, IBM mengekspektasikan pendapatan kuartal-II sebesar US$17,2 miliar, di bawah proyeksi Wall Street, yakni US$17,9 miliar. Selain itu, laba yang disesuaikan pun diperkirakan hanya mencapai US$2,93 per saham, lebih rendah dari perkiraan analis, yakni US$3,01.
Pendapatan infrastruktur IBM juga diproyeksikan menurun 7 persen. Sementara pendapatan perangkat lunak diprediksi bertumbuh 5 persen dan segmen konsultasi tetap stagnan.
Sejumlah analis Wall Street pun mulai menanggapi kabar itu, Dikutip dari Yahoo Finance, Analis Citi, Fatima Boolani, mengatakan, pada intinya, hasil yang mengecewakan itu berpotensi melanggengkan kekhawatiran dari para 'AI-loser'. Di saat yang sama, Analis HSBC, Neil Churchill, menurunkan peringkat saham IBM menjadi reduce.
