Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa IHSG Diproyeksikan Sideways? Ini Sentimen Penggeraknya

Kenapa IHSG Diproyeksikan Sideways? Ini Sentimen Penggeraknya
ilustrasi grafik saham (pexels.com/Alesia Kozik)
Intinya Sih
  • IHSG diproyeksikan bergerak sideways karena sentimen global dan domestik, termasuk penantian hasil tinjauan peringkat kredit Indonesia oleh S&P.

  • Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mendorong investor global bersikap risk-off, menarik dana dari aset berisiko menuju safe haven.

  • Dari dalam negeri, IHSG masih terbatas penguatannya meski ada rebound teknikal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam fase sideways pada pekan ini.

Sejumlah analis menilai ruang penguatan indeks masih terbatas karena pasar dibayangi kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), perkembangan konflik di Timur Tengah, hingga penantian hasil tinjauan peringkat kredit Indonesia oleh S&P.

Di tengah berbagai agenda tersebut, investor juga masih mencermati arus dana asing yang belum sepenuhnya kembali ke pasar saham domestik.

Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sembari menunggu katalis baru yang dapat mengarahkan pergerakan IHSG keluar dari rentang konsolidasinya.

Table of Content

Inflasi AS menjadi perhatian utama pasar

Inflasi AS menjadi perhatian utama pasar

Salah satu faktor yang membuat IHSG diproyeksikan bergerak sideways adalah penantian data inflasi AS periode Juni. Data tersebut dinilai penting karena akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan inflasi utama AS diperkirakan melandai menjadi 3,9 persen secara tahunan dari sebelumnya 4,2 persen. Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan bertahan di level 2,9 persen.

"Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi memperkuat narasi higher for longer dan menekan rupiah, sedangkan data yang lebih rendah dapat membuka peluang risk-on," ujar Reza dalam risetnya, dikutip Senin (13/7).

Selain data inflasi, investor global juga menunggu testimoni Chairman The Fed Kevin Warsh, musim laporan keuangan kuartal II 2026, serta sejumlah data ekonomi dari AS dan Cina yang diperkirakan turut memengaruhi sentimen pasar.

Ketegangan geopolitik memicu sikap risk-off

Perkembangan konflik antara AS dan Iran juga menjadi faktor yang diperhatikan investor. Phintraco Sekuritas menyebut pasar masih mencermati potensi gangguan terhadap pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah.

Pandangan serupa disampaikan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas," ujar David dalam risetnya, Senin (13/7).

David menjelaskan kondisi tersebut turut mendorong aliran dana menuju aset safe haven seperti emas dan dolar AS. Akibatnya, penguatan dolar berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen domestik belum kuat mendorong breakout

Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu sejumlah agenda ekonomi, antara lain publikasi Statistik Utang Luar Negeri Mei 2026, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp10 triliun, serta hasil tinjauan peringkat kredit Indonesia oleh S&P yang diperkirakan diumumkan pada 24 Juli.

Reza menyebut IHSG memang mencatat kenaikan mingguan 0,83 persen berkat rebound teknikal dan membaiknya sentimen domestik. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,68 triliun di pasar reguler serta pelemahan rupiah mendekati Rp18.100 per dolar AS.

"Momentum mulai membaik, namun penembusan level 6.000 masih diperlukan untuk mengonfirmasi penguatan lanjutan," tuturnya.

Ia memperkirakan IHSG bergerak pada area support 5.850–5.880 dengan resistance 6.000–6.050. Sementara itu, Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks bergerak di kisaran 5.800–6.000 sepanjang pekan ini.

MNC Sekuritas juga menilai IHSG masih berada dalam fase sideways, dengan peluang menguji area 6.083–6.203. Namun, perusahaan sekuritas tersebut tetap mencermati potensi koreksi menuju kisaran 5.752–5.797.

Di sisi lain, David menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Hingga semester I-2026, defisit APBN tercatat Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), masih di bawah batas maksimal 3 persen.

Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga pengelolaan pembiayaan negara di tengah ketidakpastian global.

Apa yang dimaksud dengan sideways?

Istilah sideways mengacu pada kondisi ketika harga suatu aset bergerak dalam kisaran tertentu tanpa membentuk tren naik maupun turun yang kuat. Pergerakan harga cenderung berfluktuasi secara horizontal karena kekuatan permintaan dan penawaran relatif seimbang.

Kondisi tersebut umumnya terjadi pada fase konsolidasi ketika pelaku pasar masih menunggu katalis baru sebelum menentukan arah berikutnya. Dalam situasi seperti ini, harga biasanya bergerak di antara level support dan resistance selama periode tertentu.

FAQ seputar IHSG diproyeksikan sideways

Kenapa IHSG diproyeksikan sideways?

Karena pasar masih menunggu sejumlah sentimen global dan domestik yang memengaruhi arah pergerakan indeks.

Data ekonomi apa yang paling dinantikan investor?

Rilis inflasi Amerika Serikat periode Juni menjadi salah satu agenda utama yang dicermati pasar.

Apa dampak konflik AS-Iran terhadap IHSG?

Konflik meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor cenderung mengurangi aset berisiko.

Apa arti sideways?

Sideways adalah kondisi ketika harga bergerak dalam kisaran tertentu tanpa tren naik atau turun yang dominan.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati

Related Articles

See More