Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu sejumlah agenda ekonomi, antara lain publikasi Statistik Utang Luar Negeri Mei 2026, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp10 triliun, serta hasil tinjauan peringkat kredit Indonesia oleh S&P yang diperkirakan diumumkan pada 24 Juli.
Reza menyebut IHSG memang mencatat kenaikan mingguan 0,83 persen berkat rebound teknikal dan membaiknya sentimen domestik. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,68 triliun di pasar reguler serta pelemahan rupiah mendekati Rp18.100 per dolar AS.
"Momentum mulai membaik, namun penembusan level 6.000 masih diperlukan untuk mengonfirmasi penguatan lanjutan," tuturnya.
Ia memperkirakan IHSG bergerak pada area support 5.850–5.880 dengan resistance 6.000–6.050. Sementara itu, Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks bergerak di kisaran 5.800–6.000 sepanjang pekan ini.
MNC Sekuritas juga menilai IHSG masih berada dalam fase sideways, dengan peluang menguji area 6.083–6.203. Namun, perusahaan sekuritas tersebut tetap mencermati potensi koreksi menuju kisaran 5.752–5.797.
Di sisi lain, David menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Hingga semester I-2026, defisit APBN tercatat Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), masih di bawah batas maksimal 3 persen.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga pengelolaan pembiayaan negara di tengah ketidakpastian global.