Comscore Tracker
MARKET

Bookbulding, Offering, & Allocation dalam Penawaran Umum Saham Perdana

Ketiga istilah merupakan tahapan emiten melakukan IPO.

Bookbulding, Offering, & Allocation dalam Penawaran Umum Saham PerdanaIlustrasi IPO. (Flickr)

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Investor sebaiknya mengikuti perkembangan tren di pasar modal Indonesia. Salah satunya dikenal istilah penawaran umum saham perdana secara elektronik (electronic initial public offering/e-IPO). Di dalamnya, terdapat beberapa istilah yang mesti dipahami, seperti bookbuilding, offering, dan allocation.

Ketiga istilah tersebut menggambarkan rangkaian proses dalam penawaran umum saham perdana elektronik. Dalam praktiknya, jika investor ingin membeli saham lewat mekanisme e-IPO, investor akan melewati sejumlah proses tersebut.

Berikut pengertian dari bookbuilding, offering, dan allocation, dikutip dari pelbagai sumber.

1. Bookbuilding

ilustrasi pergerakan saham

Bookbuilding merupakan masa penawaran awal. Pada tahap ini, harga saham perdana yang ditawarkan masih berupa rentang harga.

Investor pun dapat menyampaikan minat pemesanan shaam dengan mengisi harga saham sesuai rentang harga tersebut. Selanjutnya, minat investor ini menjadi dasar penetuan harga IPO yang digunakan oleh calon perusahaan tercatat dan perusahaan penjamin emisi efek (underwriter).

Itu berarti semakin tinggi minat terhadap suatu saham, maka harga saham perdananya akan ditawarkan lebih tinggi. Adapun masa bookbuilding ini dapat berlangsung 7-21 hari kerja.

2. Offering

ilustrasi pergerakan saham

Usai masa bookbuilding tuntas, maka tahapan berikutnya adalah masa penawaran awal atau offering. Dalam pengertian lain, offering adalah ketika calon perusahaan terbuka melakukan penawaran awal dari saham yang akan dijual.

Pada tahapan ini, harga saham yang ditawarkan oleh kandidat perusahaan tercatat bersifat final. Masa penawaran awal ini terjadi selama 1 hingga 5 hari kerja.

3. Allocation

ilustrasi pergerakan saham

Sesuai namanya, allocation merupakan babak penjatahan atau alokasi saham kepada para investor.

Dalam praktiknya, jika jumlah saham yang akan dijual ternyata lebih sedikit ketimbang permintaan dari investor, maka penjatahan itu akan diterapkan.

Meski demikian, jika investor tidak mendapatkan jatah saham untuk dibeli, maka dana investor terkait akan dikembalikan.

Related Articles