Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Pasar Masih Was-Was, IHSG Diproyeksi Lanjut Bergerak Terbatas

Pasar Masih Was-Was, IHSG Diproyeksi Lanjut Bergerak Terbatas
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (5/6), setelah ditutup turun 1,7 persen di level 5.839.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, minimnya katalis positif dan ketidakpastian yang terjadi menyebabkan munculnya proyeksi tersebut.

"Selain itu, pasar juga akan mencermati pergerakan mata uang rupiah dan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) atau nonfarm payrolls yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed," kata Reza dalam riset hariannya.

Ia memproyeksikan IHSG hari ini bergerak di antara support di 5.813 dan resisten pada 6.060. Saham-saham yang disoroti tim BRIDS adalah MDKA dan TINS.

Kemarin (4/6), pelemahan IHSG diikuti oleh net foreign sell sebesar Rp1,43T di pasar reguler. Posisi IHSG membaik di sesi kedua setelah terjadi penguatan di saham-saham metal dan pertambangan. Namun tekanan jual berlanjut dari perdagangan sebelumnya akibat maraknya berbagai rumor di pasar domestik di tengah rendahnya kepercayaan investor.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, setelah membentuk pola hammer candle, IHSG berpeluang mengalami limited downside. Itu karena RSI mengindikasikan kondisi extremely oversold meskipun fase downtrend masih terjadi. Sementara itu, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif meskupun volume menurun.

"Para pelaku pasar masih mencerna efek lanjutan dari memburuknya persepsi risiko domestik setelah muncul tekanan terhadap instrumen investasi nasional dan meningkatnya kehati-hatian investor asing," kata Nafan dalam risetnya.

Nafan mencatat, dalam beberapa sesi terakhir terlihat arus keluar dana asing sebesar Rp1,43 triliun. Bahkan nilai tukar rupiah berada dalam tekanan berat hingga menembus level psikologis baru di kisaran Rp18.049 per dolar AS sehingga memicu kekhawatiran serius terkait stabilitas pasar keuangan domestik.

Dengan demikian, kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah, stabilitas kebijakan, dan perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih defensif masih menjadi faktor yang membuat investor belum agresif masuk kembali ke saham.

Selain itu, para investor juga menanti pengumuman MSCI terkait klasifikasi pasar untuk Indonesia, yang diperkirakan akan dirilis pada 18 Juni 2026. Pengumuman itu akan menentukan apakah Indonesia tetap berada di emerging market atau turun kelas ke frontier market.

Kemudian, para pelaku investor juga mengantisipasi sentimen jangka pendek dari realisasi rebalancing indeks global seperti FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026, turut mempengaruhi pergerakan dana pasif asing yang langsung menyesuaikan portfolio.

Dari global, Israel dan Lebanon sepakat untuk memperbarui gencatan senjata sehingga memperkuat harapan akan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran. Sebelumnya, pasukan Israel yang bersekutu dengan AS telah memerangi militan Hizbullah dari Lebanon yang didukung Iran.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More

Pembukaan IHSG Hari Ini 5 Juni 2026, Menguat 0.11 Persen

05 Jun 2026, 09:30 WIBMarket