Pasar Menanti Data Penjualan Ritel, IHSG Diprediksi Menguat Lagi

- IHSG diprediksi melanjutkan penguatan menuju level 6.000–6.200, didorong oleh sentimen positif dari kebijakan pemerintah dan penguatan rupiah.
- Pasar menantikan rilis data penjualan ritel April 2026 sebagai indikator penting daya beli masyarakat dan arah konsumsi domestik.
- Kenaikan BI Rate, aksi buyback BUMN, serta capital inflow akibat penguatan SBN menjadi faktor utama yang menopang rebound IHSG di tengah ketidakpastian global.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat kembali pada perdagangan Kamis (11/6), setelah ditutup naik 2,71 persen ke level 5.902.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memperkirakan IHSG akan menguji level resisten pentingnya pada 5.960-6.000. Jika dapat tertembus maka ada potensi indeks acuan saham itu melaju sampai dengan level 6.200-an.
"Pasar akan sama-sama mencermati efek dari kebijakan pemerintah untuk rupiah yang terus menguat dan juga rilis data ekonomi domestik, yaitu penjualan ritel Indonesia yang menjadi sentimen pasar selanjutnya," kata Reza dalam riset hariannya.
Daftar saham yang disoroti oleh tim BRIDS hari ini, meliputi: DSSA, MBMA, dan BRPT.
Kemarin, IHSG menguat walaupun masih diikuti aksi jual asing senilai Rp2,93 triliun di pasar reguler. Penguatan tersebut ditopang oleh kenaikan BI Rate sebesar 25 bps yang berhasil memperkuat rupiah, kepastian tidak naiknya harga BBM subsidi, serta kembali meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset domestik di tengah ketidakpastian global.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, memprediksi IHSG hari ini melaju di kisaran support 5.688 dan 5.547 serta resisten di 6.058 dan 6.178.
Secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil membentu pullback dengan baik dari “wave (v)/5/A” dan membentuk pola three outside up candlestick pattern. Di sisi lain, indikator Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume.
Para pelaku pasar merespons positif hasil pertemuan strategis antara DPR, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN terkait komitmen penguatan pasar melalui aksi buyback saham. Hal ini sukses memicu rebound IHSG pada penutupan perdagangan Rabu kemarin.
Selain itu, upaya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga SRBI serta penguatan imbal hasil SBN dinilai mulai efektif menarik capital inflow guna menstabilkan nilai tukar Rupiah di mana pada saat ini mengalami penguatan 0,63 persen di level Rp17.944 per USD.
Saat ini, para pelaku pasar hari ini akan mencermati rilis data penjualan ritel periode April 2026. "Data ini krusial sebagai indikator awal untuk mengukur kekuatan daya beli masyarakat serta laju konsumsi domestik," katanya dalam riset.
Dari global, hasil perilisan data CPI (inflasi) AS yang melonjak signifikan dari 3,8 persen ke 4,2 persen memicu kekhawatiran pasar global, dimana berpotensi membuat The Fed tetap bersikap hawkish, yang memicu kekhawatiran terjadinya risiko capital outflow jangka pendek dari emerging markets.
Di sisi lain, sentimen ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump berjanji bahwa AS akan menanggapi serangan Iran yang menembak jatuh helikopter milik AS.
"Di sisi lain, pasar masih berada di bawah bayang-bayang rebalancing indeks global seperti FTSE Russell yang dijadwalkan efektif pada Senin, 22 Juni 2026," catat Nafan.
Saham-saham yang masuk pantauan Mirae hari ini adalah BREN, ELSA, dan PANI.










