Penurunan BI Rate biasanya dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sedang lesu. Apabila suku bunga turun, akses ke kredit lebih mudah dan daya beli masyarakat berpotensi meningkat.
Bagi pasar saham, kondisi ini biasanya menjadi sentimen positif. Turunnya bunga deposito dan obligasi membuat kedua instrumen tersebut menjadi kurang menarik dibandingkan saham.
Akibatnya, investor mengalihkan dana ke pasar saham untuk memperoleh potensi imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap saham meningkat dan harganya menguat.
Berikut dampak penuruan BI Rate terhadap berbagai sektor saham:
Saham sektor properti umumnya diuntungkan ketika BI Rate turun. Suku bunga yang lebih rendah membuat biaya KPR menjadi lebih terjangkau sehingga permintaan properti berpotensi meningkat.
Prospek penjualan dan laba emiten yang membaik biasanya direspons positif oleh pasar, sehingga harga saham sektor properti berpeluang menguat.
Saham sektor manufaktur dapat berpotensi menguat seiring penurunan BI Rate. Biaya pinjaman yang lebih rendah dapat mengurangi beban pendanaan perusahaan, sementara peningkatan daya beli masyarakat berpotensi mendongkrak penjualan.
Kombinasi kedua faktor tersebut dapat memperbaiki prospek laba emiten dan meningkatkan minat investor terhadap saham sektor manufaktur.
Saham sektor perbankan memiliki respons yang lebih beragam saat BI Rate turun. Penurunan suku bunga dapat meningkatkan permintaan kredit sehingga berpotensi mendorong pertumbuhan bisnis perbankan.
Namun, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) juga dapat menyusut karena bunga pinjaman ikut menurun. Oleh karena itu, pergerakan saham perbankan akan bergantung pada kemampuan masing-masing bank menjaga profitabilitasnya.