Profil dan Prospek Saham INET di Tengah Ekspansi Infrastruktur Digital

- Profil dan prospek saham INET ditopang bisnis infrastruktur telekomunikasi berbasis serat optik.
- INET aktif melakukan aksi korporasi untuk mendukung ekspansi jaringan digital nasional.
- Harga saham INET mengalami kenaikan signifikan sejak November 2025 di tengah rights issue.
Jakarta, FORTUNE — Profil dan prospek saham INET kembali menjadi sorotan seiring penguatan harga saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk dalam beberapa bulan terakhir.
Emiten infrastruktur telekomunikasi ini mencatat lonjakan harga signifikan sejak November 2025, di tengah aksi korporasi berlapis mulai dari rights issue, penerbitan waran, hingga rencana pendanaan obligasi dan sukuk senilai Rp1 triliun.
Per 22 Januari 2026 pukul 14.00 WIB, saham INET berada di level Rp570 per saham. Posisi ini lebih rendah dari level tertingginya di Rp710 pada 5 Januari 2026, namun masih mencerminkan kenaikan 36,69 persen dalam satu bulan. Jika ditarik lebih panjang, saham INET melesat dari level Rp196,51 pada 7 November 2025.
Profil bisnis dan struktur usaha INET
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) didirikan pada 2016 dan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2023. Perseroan tercatat di Papan Utama BEI dan beroperasi di sektor infrastruktur, subsektor telekomunikasi, dengan fokus pada jasa internet dan data.
Bidang usaha INET mencakup aktivitas perusahaan holding, jasa jual kembali layanan telekomunikasi, Internet Service Provider (ISP), serta penyedia jasa penyewaan jaringan fiber optic melalui entitas anak. Model bisnis perseroan berorientasi business-to-business (B2B), dengan klien utama berasal dari segmen ISP dan korporasi.
Dalam operasionalnya, INET memiliki 13 point of presence (POP) yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia dan melayani lebih dari 100 klien. Layanan yang disediakan mencakup pusat data interkoneksi, kolokasi, local loop atau local access, managed service, hingga IP Transit (NAP).
Anak usaha INET dan aset pendukung
Struktur grup INET diperkuat oleh sejumlah anak usaha strategis. PT Data Prima Solusindo dan PT Garuda Prima Internetindo bergerak sebagai penyedia jasa ISP.
PT Internet Anak Bangsa menjalankan kegiatan konstruksi dan perdagangan besar, sementara PT Pusat Fiber Indonesia fokus pada penyewaan jaringan fiber optic.
PT Pusat Fiber Indonesia menjadi salah satu aset penting perseroan dengan kepemilikan hampir penuh dan jaringan serat optik yang membentang ratusan kilometer, terutama di wilayah Jabodetabek.Aset ini juga menjadi objek ijarah dalam penerbitan sukuk yang tengah disiapkan perseroan.
Kepemilikan saham dan pergerakan pengendali
Dari sisi kepemilikan, saham INET dikendalikan oleh PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara. Pengendali ini kembali menambah kepemilikan saham dengan memborong 847,60 juta lembar, setelah sebelumnya membeli 3,5 miliar saham.
Dengan transaksi tersebut, porsi kepemilikan PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara mencapai sekitar 62,5 persen, sementara sisanya dimiliki oleh masyarakat non-warkat.
Aksi pembelian saham oleh pengendali ini difasilitasi oleh PT Yakin Bertumbuh Sekuritas dan terjadi di tengah volatilitas harga saham INET selama periode rights issue.
Aksi korporasi dan pendanaan ekspansi
Dalam konteks pengembangan usaha, INET menjalankan rangkaian aksi korporasi sepanjang 2025 hingga awal 2026. Perseroan telah memperoleh pernyataan efektif OJK atas PMHMETD I (Rights Issue Tahap II) dan penerbitan Waran Seri II, dengan periode perdagangan HMETD berlangsung pada 8–22 Januari 2026.
Selain itu, INET bersiap menerbitkan Obligasi I dan Sukuk Ijarah I Tahun 2026 dengan total nilai Rp1 triliun. Dana tersebut seluruhnya akan dipinjamkan kepada anak usaha PT Garuda Prima Internetindo sebagai belanja modal untuk pembangunan jaringan Fiber to The Home (FTTH) dengan teknologi WiFi 7 di Kalimantan Barat.
Dalam prospektusnya, manajemen INET menyatakan, “Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi. Pembayaran bunga obligasi pertama akan dilakukan pada 6 Mei 2026.”
Untuk sukuk ijarah, objek yang digunakan adalah manfaat atas aset tetap berupa fiber optic cable sepanjang 430 kilometer milik PT Pusat Fiber Indonesia, dengan nilai manfaat sewa mencapai Rp928 miliar selama tenor sukuk.
Dinamika harga saham dan sentimen pasar
Penguatan saham INET terjadi bersamaan dengan meningkatnya jumlah saham beredar akibat rights issue. Bursa Efek Indonesia sebelumnya menetapkan harga teoritis saham INET di kisaran Rp472 per saham berdasarkan rasio rights issue 3:4 dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Lonjakan harga saham selama Januari 2026 mencerminkan respons pasar terhadap aksi korporasi dan rencana ekspansi infrastruktur digital perseroan.
Selama periode tersebut, saham INET juga diperdagangkan bersamaan dengan Waran Seri II yang mulai tercatat pada Januari 2026 dan memiliki periode pelaksanaan hingga Juli 2028.
Posisi INET di sektor infrastruktur digital
Sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi berbasis serat optik, INET beroperasi di tengah kebutuhan jaringan broadband yang terus meningkat.
Perseroan menempatkan bisnis penyediaan jaringan, interkoneksi data, dan kontraktor FTTH sebagai sumber pertumbuhan pendapatan, termasuk dari layanan operasi, pemeliharaan, dan perluasan kapasitas jaringan di masa mendatang.
FAQ seputar profil dan prospek INET
| Apa bisnis utama PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)? | INET bergerak di bidang jasa telekomunikasi, ISP, dan penyewaan jaringan fiber optic dengan model B2B. |
| Siapa pengendali saham INET saat ini? | Pengendali saham INET adalah PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara dengan kepemilikan sekitar 62,5 persen per Januari 2026. |
| Untuk apa dana obligasi dan sukuk INET digunakan? | Dana digunakan sebagai pinjaman kepada anak usaha untuk pembangunan jaringan FTTH berteknologi WiFi 7. |












