Walaupun mengalami penyesuaian, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) tetap menjadi konstituen dengan bobot terbesar di IDXHIDIV20, masing-masing sebesar 15 persen.
Bobot BBRI turun dari sebelumnya 15,90 persen, sedangkan BMRI berkurang dari 15,30 persen. Penyesuaian tersebut mencerminkan penerapan batas maksimum bobot 15 persen sesuai metodologi IDXHIDIV20.
Untuk tahun buku 2025, BBRI membagikan dividen tunai sebesar Rp52,10 triliun atau Rp346 per saham. Jumlah tersebut mencakup dividen interim Rp137 per saham yang dibayarkan pada Januari 2026 serta dividen final Rp209 per saham yang dibayarkan pada Mei 2026.
Sementara itu, BMRI membagikan dividen tunai sebesar Rp44,47 triliun atau Rp476 per saham untuk tahun buku 2025. Nilai tersebut terdiri atas dividen interim Rp100 per saham yang dibayarkan pada Januari 2026 dan dividen final Rp376 per saham yang didistribusikan pada Mei 2026.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatat kenaikan bobot dari 14,14 persen menjadi 14,85 persen. Perseroan membagikan dividen tunai sebesar Rp41,3 triliun atau Rp281 per saham, dengan dividend payout ratio mencapai 72 persen dari laba bersih tahun buku 2025.
Kenaikan bobot juga terjadi pada PT Astra International Tbk. (ASII), dari 11,92 persen menjadi 12,44 persen. Emiten tersebut membagikan dividen tunai sebesar Rp15,66 triliun atau Rp390 per saham, termasuk dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan sebelumnya.
Selain keempat saham tersebut, bobot beberapa emiten lain juga meningkat, seperti BBNI, ANTM, PGAS, PTBA, UNTR, hingga INDF. Sebaliknya, ADRO, TAPG, dan TLKM mengalami penurunan bobot pada evaluasi kali ini.