MARKET

January Effect: Antara Mitos dan Fakta

Apa itu January effect?

January Effect: Antara Mitos dan FaktaIlustrasi: tanggal di kalender tahun 2024. (Dok. 123RF)
02 January 2024
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (Ihsg) berhasil naik 0,19 persen ke level 7.286,96 pada perdagangan Selasa (2/1) di awal sesi kedua atau sesi siang.

Di hari perdana perdagangan di tahun 2024 ini, IHSG dibuka di zona merah, tepatnya di level 7.268,40. Lalu sempat terpeleset ke level terendah hari ini, yakni 7.245,57.

Data IDX Mobile menunjukkan, volume transaksi IHSG selama sesi pertama hari ini sudah berjumlah 7,62 miliar saham. Dengan nilai transaksi Rp3,69 triliun dan frekuensi transaksi 536.000 kali.

Sebelumnya, Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan mengatakan, peluang terjadinya January Effect akan menjadi penopang rally IHSG perdagangan awal tahun, melanjutkan fenomena window dressing.

January effect sendiri umumnya terjadi di awal tahun baru, walau tidak selalu berdampak langsung terhadap IHSG. Lantas, apa itu January effect? Berikut ini ulasan informasinya.

Apa itu January effect?

Istilah January effect sendiri mengacu pada peristiwa saat harga saham di pasar modal relatif naik. Bukan hanya yang berkapitalisasi besar, melainkan juga berlaku untuk yang kapitalisasinya kecil sampai dengan menengah. Mirip dengan Santa Claus Rally yang kerap terjadi pada Desember setiap tahun, January effect pun begitu.

Dikutip dari situs web Indo Premier Sekuritas, penelitian tentang January effect pertama kali dilakukan oleh Sidney B. Wachtel, seorang bankir, pada 1942.

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil mulai mengalami tren kenaikan harga prapertengahan Januari. 

Dilansir dari laman CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, studi itu juga menemukan fakta, imbal hasil (return) sebelum pertengahan Januari cenderung lebih tinggi lima kali lipat. Apalagi pada saham-saham dengan kapitalisasi yang relatif kecil.

Sebagai perbandingan, CGS-CIMB Sekuritas Indonesia melaporkan, rata-rata imbal hasil selama Januari tiap tahunnya mencapai 3,48 persen. Angka itu lebih tinggi dari rerata imbal hasil di luar bulan Januari, yang hanya 0,42 persen.

Studi lain dari Salomon Smith Barney menemukan fakta, rata-rata kinerja di Januari lebih tinggi 0,82 persen jika membandingkan pengembalian saham dengan kapitalisasi kecil dan saham kapitalisasi besar sepanjang 1972-2002.

Dari situlah, hipotesis January effect muncul. Lebih lanjut, menurut temuan Wachtel, pola tersebut sudah berlangsung pada 1925.

January effect: antara mitos dan fakta

Namun, selama dekade terakhir, kinerja saham-saham di bulan Januari tercatat melambat signifikan. Direktur Investasi AJ Bell, pialang saham asal Inggris, Russ Mould mengatakan, fakta apapun ihwal January effect berada di antara batas mitos dan fakta.

"Efek Januari tampak sangat jelas dari tahun 1984-1989. Namun, sejak itu, peningkatan itu tidak terlalu terasa dan terjadi secara teratur. Dalam tujuh terakhir, kerugian terjadi lima kali pada bulan Januari," jelasnya, dikutip dari Fortune.com.

Lebih lanjut, Head of Strategic Research Schroder, Duncan Lamont mengatakan, dalam investasi, kecuali Anda menemukan alasan mendasar dari suatu kejadian, maka tak ada alasan untuk mengharapkan hal itu terjadi secara berulang.

"Jika kita menguraikannya berdasarkan dekade demi dekade, menjadi jelas bahwa hasil itu mayoritas terjadi karena kinerja beberapa dekade lalu," jelasnya, dilansir dari Fortune.com juga.

Related Topics