Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
20251230_153647.jpg
Ilustrasi penutupan perdagangan bursa di BEI, Selasa (30/12). (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)

Jakarta, FORTUNE - Menyusul keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menerapkan perlakuan sementara untuk pasar Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 6,53 persen ke level 8.393,51.

Menanggapi keputusan itu, para pemangku kepentingan pasar modal (mencakup Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, menyatakan akan terus melakukan diskusi dengan MSCI. Terutama mengenai poin yang menyangkut transparansi data yang disoroti MSCI.

"Sebelumnya, kami telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan penyampaian pengumuman data free float di situs web BEI. Namun, jika dirasakan MSCi belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan," jelas Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad kepada pers, Rabu (28/1) pagi.

Sebagai konteks, MSCI memutuskan membekukan sejumlah perubahan yang berkaitan dengan peninjauan indeks (index review), termasuk peninjauan Februari 2026. Keputusan itu meliputi pembekuan pada: seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penambahan konstituen Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), dan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran (termasuk dari Small Cap ke Standard).

MSCI mengatakan, langkah itu bertujuan mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability), seraya memberi waktu bagi otoritas pasar melakukan perbaikan transparansi.

Sebelumnya, pada Oktober 2025, MSCI mulai meminta masukan kepada para pelaku pasar tentang rencana penggunaan laporan bulanan kepemilikan saham dari publikasi KSEI sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.

Berdasarkan hasil konsultasi itu, para investor menggarisbawahi masalah fundamental mengenai kelakan investasi di pasar modal Indonesia berpotensi berlanjut karena kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham. Ditambah lagi, ada kekhawatiran atas kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi, yang bisa mengganggu pembentukan harga yang wajar.

Atas dasar itulah MSCI melakukan perlakuan khusus berupa pembekuan. Dalam pengumuman resminya, MSCI menekankan, pasar Indonesia memerlukan informasi struktur kepemilikan saham yang lebih detail dan reliable, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan yang tinggi, guna mendukung penilaian free float dan investability yang kuat.

"Jika perkembangan untuk mencapai peningkatan transparansi yang diperlukan tidak tercapai hingga Mei 2026, MSCI akan menilai ulang status aksesibilitas pasar Indonesia," kata MSCI.

Lebih lanjut, berdasarkan pertimbangan dari hasil konsultasi dengan pelaku pasar, maka langkah itu berpotensi menyebabkan 2 hal, sebagaimana dilansir dari riset Stockbit Sekuritas:

  • Penurunan bobot dalam MSCI Emerging Markets Indexes untuk Indonesia.

  • Potensi reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market menjadi Frontier Market.

Pengamat Pasar Modal dan Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, mengatakan, keputusan MSCI itu menekan pergerakan IHSG, khususnya dalam jangka pendek hingga menengah. Adanya pembekuan terhadap kenaikan bobot saham Indonesia di indeks MSCI berpotensi menahan potensi aliran dana pasif dari investor global.

"Padahal, dana indeks dan ETF selama ini menjadi salah satu penopang utama permintaan saham berkapitalisasi besar di Indonesia. Ketika arus dana baru tertahan, sedangkan tekanan jual tetap ada, ruang penguatan IHSG menjadi lebih terbatas," kata Hendra.

Tekanan tambahan datang dari saham-saham yang diproyeksikan naik kelas ke dalam indeks MSCI. Akibatnya, katalis positif yang mendorong minat investasi investor pun hilang. Alhasil, kondisi itu memicu aksi ambil untung atau sikap wait and see, sehingga turut menekan sentimen pasar secara menyeluruh.

Lebih lanjut, jika dilihat dari persepsi risiko, langkah MSCI dinilai membuat investor global semakin berhati-hati terhadap pasar Indonesia. Hendra mengatakan, isu transparansi dan kekhawatiran terhadap pembentukan harga yang wajar meningkatkan risk premium pasar Indonesia di mata investor asing.

"Dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung mengurangi eksposur atau menunda penambahan posisi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi kontributor utama pergerakan IHSG. Akibatnya, IHSG menjadi lebih rentan tehradap koreksi ketika muncul tekanan dari sentimen global," jelasnya.

Secara teknikal, IHSG diharapkan tetap mampu bertahan di area support8.846. Jika level itu jebol, maka ada potensi menguji support berikutnya di level 8.715. Hendra menilai, level itu menjadi titik penting untuk menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan sentimen MSCI.

"Secara keseluruhan, kombinasi sentimen MSCI dan konfigurasi teknikal membuat IHSG berpeluang besar bergerak cenderung melemah atau konsolidatif dalam rentang 8.846 hingga 9.047," katanya.

Dikutip dari IDX Mobile, pada Rabu pukul 09.41 WIB, IHSG melemah 5,24 persen ke level 8.508,81.

Editorial Team