Jakarta, FORTUNE - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) masih menunggu kejelasan proses divestasi kepemilikannya dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.
Perseroan menyatakan pembahasan terkait pengambilalihan pengelolaan KCIC oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih berlangsung bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Direktur Utama WIKA, I Ketut Pasek Senjaya Putra, mengatakan perseroan terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Danantara selaku induk WIKA. Koordinasi tersebut dilakukan demi membahas proses pengambilalihan pengelolaan KCIC oleh Kemenkeu sekaligus rencana divestasi kepemilikan WIKA pada proyek tersebut.
“Saat ini masih dalam proses dan kami terus koordinasi dengan Danantara dalam proses divestasi di Whoosh ini,” kata Ketut dalam acara paparan publik WIKA secara virtual, Kamis (1/10).
WIKA belum dapat menyampaikan lebih jauh mengenai perkembangan aksi korporasi tersebut sebelum terdapat kepastian mengenai proses dan ketentuan transaksinya. Perseroan, kata Ketut, akan menyampaikan informasi kepada seluruh pemangku kepentingan sesuai dengan ketentuan berlaku.
Meski prosesnya belum final, WIKA melihat divestasi tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap kondisi keuangan perseroan. Ketut mengatakan hasil divestasi diharapkan dapat memperbaiki posisi keuangan WIKA ke depan.
“Harapan kami memang sekaligus menjawab juga untuk apakah hasil divestasi bisa memperbaiki posisi keuangan? Tentunya sangat bisa memperbaiki posisi keuangan WIKA,” ujarnya.
Demi memastikan proses tersebut berjalan, WIKA tidak hanya berkoordinasi dengan Danantara dan Kemenkeu. Perseroan juga berkomunikasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan serta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), mengingat struktur kepemilikan KCIC juga melibatkan konsorsium perusahaan asal Cina.
Dalam struktur KCIC, konsorsium BUMN melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) menguasai 60 persen saham. Sementara itu, 40 persen sisanya dimiliki konsorsium perusahaan asal Cina, Beijing Yawan HSR Co Ltd.
Di dalam PSBI, KAI menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi 58,53 persen, sedangkan WIKA menguasai 33,36 persen. Jasa Marga memiliki 7,08 persen dan PTPN I sebesar 1,03 persen.
Dalam proyeks Whoosh, WIKA juga tidak hanya berposisi sebagai pemegang saham. Perseroan turut berperan sebagai kontraktor dalam konsorsium pembangunan kereta cepat bersama enam kontraktor asal Cina. Dalam proyek tersebut, WIKA telah menyuntikkan modal Rp6,1 triliun.
Namun, investasi besar tersebut belum menjadi sumber keuntungan bagi perseroan. Suntikan modal WIKA dalam proyek Whoosh justru turut menjadi beban yang berdampak terhadap arus kas perseroan. Karena itu, divestasi kepemilikan menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan WIKA.
Di sisi lain, rencana pengambilalihan pengelolaan pembayaran beban utang Whoosh oleh Kemenkeu dari Danantara sebelumnya disampaikan oleh eks Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Menurut Purbaya, Kemenkeu akan mengambil alih kepemilikan saham PSBI hingga 60 persen. Saham konsorsium BUMN di bawah Danantara tersebut nantinya diserahkan dan dikelola melalui entitas Special Mission Vehicle (SMV) milik Kemenkeu. Dengan skema tersebut, pembayaran cicilan utang Whoosh akan dilakukan oleh SMV Kemenkeu.
Kemenkeu juga menyatakan aksi korporasi tersebut tidak akan melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
