Jakarta, FORTUNE - Industri keramik nasional tertekan karena pasokan bahan baku utamanya, yakni clay dan feldspar, yang berasal dari Jawa Barat, terganggu. Kedua bahan tersebut selama ini menjadi tulang punggung produksi keramik dan genting nasional.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto, mengungkapkan wilayah Jawa Barat–Banten selama ini menjadi pusat suplai clay dan feldspar. Sehingga, lazim jika sekitar 60 persen industri keramik beroperasi di Jawa bagian Barat. Namun, sejak kuartal IV-2025, pasokan terganggu setelah pemerintah daerah setempat memutuskan moratorium izin pertambangan.
“Clay bukan hanya penting bagi industri keramik, tapi juga sangat dibutuhkan industri genting untuk mendukung Program Gentengisasi yang dicanangkan Presiden Prabowo. Kami berharap ada solusi segera dari Pemda Jawa Barat agar proses produksi tidak terhambat,” kata Edy usai acara pelantikan Dewan Pengurus Asaki Periode 2026–2029 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (3/2).
Gangguan pasokan dari wilayah yang selama ini memasok 5060 persen kebutuhan industri membuat sejumlah anggota Asaki terpaksa mencari alternatif ke daerah lain. Bangka Belitung menjadi salah satu tujuan, tapi Edy menilai langkah itu menambah biaya logistik dan tidak menawarkan cadangan material yang besar.
“Biayanya jelas naik karena jaraknya jauh. Deposit di sana pun sudah tidak banyak. Jangan sampai pasar ada, material ada, tapi suatu hari kita malah harus impor bahan baku dari negara tetangga seperti Malaysia,” katanya.
