Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
ilustrasi keramik kamar mandi
ilustrasi keramik kamar mandi (unsplash.com/Tsuyoshi Kozu)

Intinya sih...

  • Industri keramik terganggu akibat kelangkaan clay dan feldspar dari Jawa Barat.

  • Anggota Asaki mencari alternatif pasokan ke daerah lain seperti Bangka Belitung.

  • Menteri Perindustrian turun tangan dengan menghubungi Gubernur Jawa Barat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Industri keramik nasional tertekan karena pasokan bahan baku utamanya, yakni clay dan feldspar, yang berasal dari Jawa Barat, terganggu. Kedua bahan tersebut selama ini menjadi tulang punggung produksi keramik dan genting nasional.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto, mengungkapkan wilayah Jawa Barat–Banten selama ini menjadi pusat suplai clay dan feldspar. Sehingga, lazim jika sekitar 60 persen industri keramik beroperasi di Jawa bagian Barat. Namun, sejak kuartal IV-2025, pasokan terganggu setelah pemerintah daerah setempat memutuskan moratorium izin pertambangan.

Clay bukan hanya penting bagi industri keramik, tapi juga sangat dibutuhkan industri genting untuk mendukung Program Gentengisasi yang dicanangkan Presiden Prabowo. Kami berharap ada solusi segera dari Pemda Jawa Barat agar proses produksi tidak terhambat,” kata Edy usai acara pelantikan Dewan Pengurus Asaki Periode 2026–2029 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (3/2).

Gangguan pasokan dari wilayah yang selama ini memasok 5060 persen kebutuhan industri membuat sejumlah anggota Asaki terpaksa mencari alternatif ke daerah lain. Bangka Belitung menjadi salah satu tujuan, tapi Edy menilai langkah itu menambah biaya logistik dan tidak menawarkan cadangan material yang besar.

“Biayanya jelas naik karena jaraknya jauh. Deposit di sana pun sudah tidak banyak. Jangan sampai pasar ada, material ada, tapi suatu hari kita malah harus impor bahan baku dari negara tetangga seperti Malaysia,” katanya.

Menteri turun tangan

Menanggapi keluhan industri, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, bergerak cepat. Ia menyatakan telah mencoba menghubungi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), demi meminta kejelasan situasi sekaligus membuka ruang komunikasi penyelesaian.

“Tadi saya coba telepon KDM, tapi belum diangkat. Saya sudah WA,” kata Agus.

Ia menegaskan telah meminta Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) segera berkoordinasi dengan Pemda Jabar guna memahami permasalahan dan mencari solusi.

Agus menekankan keberlanjutan pasokan bahan baku adalah faktor vital bagi industri keramik yang saat ini mulai bangkit. Gangguan suplai berpotensi menekan utilisasi pabrik serta mengancam stabilitas tenaga kerja.

“Pasti ada alasan dari Pemda Jabar, tapi pasti juga ada jalan keluar agar industri keramik tidak kesulitan mendapatkan bahan baku. Pemerintah tidak ingin momentum kebangkitan industri terganggu oleh persoalan administratif atau koordinasi daerah,” ujarnya.

Agus memastikan komunikasi lintas pemerintah akan diperkuat agar rantai pasok tetap stabil dan iklim usaha para pelaku industri terjaga.

Editorial Team