Comscore Tracker
NEWS

Ekonomi Sirkular Sangat Mungkin Diterapkan di Indonesia

Faktor pentingnya, kesadaran, dorongan, dan kerja sama.

Ekonomi Sirkular Sangat Mungkin Diterapkan di IndonesiaIlustrasi Circular Economy. (ShutterStock/Lemonsoup14)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE - Menyiasati perbaikan pada sektor kesehatan dan perekonomian pada masa pandemi Covid-19, transformasi Indonesia ke arah ekonomi sirkular merupakan pilihan yang sangat mungkin diambil. Hal ini tidak hanya dapat diterapkan pada skala kecil, seperti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), namun juga dalam tataran industri.

Pengamat ekonomi yang juga merupakan dosen IPMI International Business School, Roy Sembel, mengungkapkan kemungkinan ini pada Fortune Indonesia. Menurutnya, di Indonesia sudah ada konsepnya, banyak contohnya, bahkan teknologi dan proyek percobaan pun sudah banyak diterapkan.

“Sudah ada banyak contoh untuk penerapannya di Indonesia, mulai dari pertanian terpadu maupun pengolahan kopi beserta limbahnya. Sekarang juga sudah banyak teknologi yang sejak awal mengelola sampah atau limbah, sehingga menjadi tidak berbahaya lagi, contohnya adalah plastik biodegradable yang sudah bisa terurai dalam tempo yang relatif tidak lama,” kata Roy kepada Fortune Indonesia, Senin (27/9).

Menurut Roy, faktor terpenting dalam penerapan ekonomi sirkular di Indonesia adalah adanya kesadaran tentang dorongan dan kerja sama dari seluruh pihak, baik itu pemerintah, institusi pendidikan, media, komunitas masyarakat, serta dunia bisnis maupun industri. “Jadi semuanya semacem pentahelix, lima pihak saling bergabung dan berkesinambungan,” ujarnya.

Lebih jauh, Roy mengatakan bahwa secara global hal ini sudah terangkum dalam daftar Sustainable Development Goals (SDGs). Kemudian, pada tataran perusahaan, daftar tujuan ini diterjemahkan dalam konsep Environment, Social, and Governance (ESG). “Ini jadi ujung tombak keberlanjutan sebuah perusahaan,” katanya.

Apa itu ekonomi sirkular?

Roy Sembel menjelaskan bahwa ekonomi sirkular adalah sistem ekonomi yang mengikuti siklus alam, mulai dari bertumbuh, berkembang, kemudian daun-daun jatuh ke tanah dan didaur ulang oleh alam. Menurutnya, dalam sistem ekonomi sirkular, filosofi yang diterapkan bukanlah mengambil dari bumi, membuat sesuatu dari bumi, dan berujung pada sampah.

“Tapi semua harus diatur, supaya ketika kita mengambil sesuatu dari bumi, ujungnya itu akan bisa kembali ke bumi, untuk nantinya bisa diambil kembali. Hal ini terjadi dalam siklus yang berputar. Inilah yang disebut ekonomi sirkular,” ujar Roy.

Jadi, secara umum ekonomi sirkular merupakan model industri baru yang berfokus pada mengurangi, memakai kembali, dan mendaur ulang yang mengarah pada pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah.

Komitmen pemerintah Indonesia

Pernyataan Roy Sembel tentang ekonomi sirkular yang sangat mungkin diterapkan di Indonesia seolah menegaskan komitmen pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Perekonomian untuk Pemulihan ekonomi Nasional (PEN). 

“Konsep ini tentunya bukan hanya pengelolaan limbah tetapi juga selanjutnya menggunakan proses produksi dimana bahan baku dapat digunakan berulang-ulang sehingga tentu akan terjadi saving yang besar terutama untuk sumber daya alam,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam rilis Kemenko Perekonomian (25/9).

Airlangga menilai bahwa transformasi menuju ekonomi sirkular ini penting dilakukan karena berdampak positif, baik untuk lingkungan maupun pembangunan di masa depan. Pemerintah Indonesia tidak hanya ingin mengembalikan ekonomi Indonesia seperti sebelum krisis, tapi juga menjadikan kondisi ekonomi lebih baik lagi.

Dampak penerapan ekonomi sirkular

Airlangga mengungkapkan bahwa penerapan ekonomi sirkular diproyeksi akan meningkatkan pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia sekaligus menghasilkan 4,4 juta lapangan pekerjaan. Tiga perempat dari lapangan pekerjaan yang dihasilkan ini diprediksi dapat diisi perempuan dengan kesempatan yang lebih baik pada 2030.

Lebih dari PDB, kata Airlangga, ekonomi sirkular juga akan berkontribusi pada pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. “Kita berkomitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca pada tahun 2030 sebesar 29 persen dan apabila ada kerja sama internasional, ini dapat ditingkatkan menjadi 41 persen,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pembangunan rendah karbon telah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan peta jalan pencapaian NDC Indonesia 2030. Adapun 5 sektor yang menjadi prioritas utama adalah pembangunan energi berkelanjutan, pengelolaan limbah terpadu, pengembangan industri hijau, pemulihan lahan berkelanjutan, serta inventarisasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan kelautan.

Related Articles