NEWS

Apa Itu FOMO? Ketahui Pengertian dan Penyebabnya

Membatasi media sosial bisa menjadi cara mengurangi FOMO.

Apa Itu FOMO? Ketahui Pengertian dan PenyebabnyaFOMO. (Flickr)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Terdapat satu fenomena yang saat ini dikenal kerap terjadi di kalangan anak muda, yakni Fear of Missing Out atau yang sering disebut dengan FOMO. Berdasarkan kata pembentuknya, FOMO adalah perasaan takut ‘tertinggal’ karena tidak bisa mengikuti perkembangan atau perubahan yang terjadi pada aktivitas tertentu.

Seperti tertulis di laman resmi djkn.kemenkeu.go.id, FOMO juga dapat diartikan sebagai sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya. 

Walau belum dapat dikategorikan sebagai penyakit kejiwaan, rasa ini mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan, atau mengalami hal-hal yang lebih baik dari diri orang itu.

Biasanya, fenomena berupa perasaan takut ini terjadi dalam pergaulan sehari-hari. Dalam dunia bisnis dan keuangan, FOMO pun sering terjadi saat sebuah tren muncul di tengah masyarakat. Misalnya, pada saat McDonald meluncurkan paket edisi grup asal Korea Selatan, BTS. Hampir seluruh gerai McD dipenuhi fans BTS yang mengalami FOMO, sehingga rela mengantre untuk mendapat edisi khusus itu, sekalipun harus berdesakan di masa pandemi.

Contoh lain adalah yang terjadi di pasar mata uang kripto, di mana pergerakan naik dan turun nilainya sering disebabkan oleh cuitan Elon Musk di Twitter, yang menyebabkan orang-orang mengikuti Musk dan orang lainnya terjebak dalam situasi FOMO.

Perasaan FOMO yang dibiarkan dapat memicu munculnya hal negatif seperti sulit tidur, kelelahan, stres, bahkan depresi hingga gangguan jiwa.

Penyebab FOMO

Menurut artikel di laman djkn.kemenkeu.go.id, FOMO salah satunya bisa disebabkan oleh penggunaan media sosial. Perkembangan teknologi membuat seseorang menjadi lebih mudah menerima jutaan informasi tanpa saringan. Semua tersedia secara instan dan memiliki dampak yang juga instan sehingga membentuk sifat atau karakter seseorang.

Salah satu aplikasi media sosial yang digemari di Indonesia, adalah Instagram. Aplikasi ini punya fitur-fitur yang mendukung untuk mengunggah video/foto, seperti fitur instastory, maupun reels yang penuh dengan postingan rutinitas para pengguna.

Hal ini dapat memicu munculnya perasaan cemas pada seseorang, lalu membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang terlihat lebih menyenangkan atau bahagia.

Mengenal gejala FOMO

Seperti halnya gangguan psikologis lain, FOMO juga menunjukkan beberapa gejala. FOMO dapat terjadi pada semua gender dan umur. Biasanya, seseorang yang mengalami FOMO punya tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah, karena terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Berikut ini adalah beberapa gejalanya.

  1. Selalu mengecek gadget.
  2. Lebih peduli dengan media sosial daripada kehidupan nyata.
  3. Selalu ingin tahu kehidupan orang lain.
  4. Selalu ingin tahu gosip terbaru.
  5. Mengeluarkan uang melebihi kemampuan untuk beli hal tidak penting, dengan alasan agar tidak ketinggalan zaman.
  6. Mengatakan “ya” bahkan disaat sedang tidak ingin.

Tips mencegah FOMO

Setelah mengetahui gejala  terjadinya FOMO, seseorang sebenarnya dapat langsung melakukan tindakan pencegahan dengan melakukan beberapa hal berikut.

Meski tidak langsung menghilangkat perasaan FOMO tersebut, namun setidaknya langkah ini dapat mengurangi dampak FOMO dan mencegah agar tidak mencapai tingkatan yang parah. 

  1. Fokus pada diri sendiri
    Fokus pada kondisi diri sendiri tanpa membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang tidak sama dalam menjalani kehidupannya.
  2. Membatasi penggunaan media sosial dan gadget
    Dengan membatasi diri dalam penggunaan media sosial dapat mengurangi FOMO.
  3. Mencari koneksi nyata
    Menjalin hubungan sosial secara nyata dengan orang lain, alih-alih hanya melakukannya lewat media sosial. Perasaan FOMO akan perlahan hilang dengan sendirinya ketika kita mengutamakan koneksi nyata.
  4. Menghargai diri sendiri
    Menyadari bahwa banyak hal-hal baik yang dimiliki atau dilakukan, dan selalu bersyukur atasnya, dapat mengurangi rasa iri dan rasa kekurangan pada diri.

Related Articles