Comscore Tracker
NEWS

Riset APEC: Perempuan Pikul Beban Lebih Banyak dan Tidak Proporsional

Mempengaruhi partisipasi perempuan di ekonomi dan sosial.

Riset APEC: Perempuan Pikul Beban Lebih Banyak dan Tidak ProporsionalSeorang ibu bekerja di ladang sambil menggendong anaknya. (Pixabay/StockSnap)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Perempuan memikul beban signifikan dan tidak proporsional. Dibandingkan dengan kaum laki-laki, perempuan menanggung pekerjaan rumah dan perawatan yang tidak dibayar, hampir tiga kali lebih banyak.

Hasil ini terungkap dalam laporan penelitianunit pendukung organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di laman resminya, pada Kamis (24/3).

Rata-rata, perempuan di kawasan APEC menghabiskan 4 jam 20 menit setiap hari untuk pekerjaan yang tidak dikompensasikan dengan upah, seperti merawat anak, orang tua, anggota keluarga yang sakit, serta melakukan pekerjaan rumah tangga hingga pekerjaan sukarela di masyarakat.

“Besar dan dampak beban yang dipikul perempuan dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi, seperti pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, status perkawinan, dan anak,” ujar Rhea C. Hernando, penulis laporan yang juga peneliti senior APEC Policy Support Unit.

“Misalnya, bagian perempuan dari pekerjaan yang tidak dibayar umumnya berlipat ganda setelah mereka menikah dan memiliki anak.”

Namun, dirinya juga menyadari bahwa fakta tentang beban besar kaum perempuan ini masih perlu lebih didalami dengan menghitung kesetaraan moneternya dalam hal kontribusi terhadap ekonomi.

Dampak jangka panjang dari situasi ini

Seiring nilai uang dari pekerjaan yang tidak dibayar, Hernando berpendapat bahwa menghitung dampak yang lebih luas dan jangka panjang pada perempuan dan anak perempuan juga cukup penting. Contohnya, bagaimana hal itu memengaruhi tingkat pendidikan, serta mendatangkan konsekuensi bagi kesehatan fisik maupun mental.

Untuk itu, pemerintah di tiap negara pun dirasa perlu untuk lebih mengalokasikan sumber daya untuk melakukan survei berdasar pada statistik gender, termasuk soal pekerjaan yang tidak dibayar.

“Bagian yang sulit adalah mengatasi kesenjangan pendanaan, karena hanya 13 persen ekonomi di seluruh dunia dengan anggaran khusus yang didedikasikan untuk statistik gender.”

Saran dan rekomendasi kebijakan

Laporan tersebut juga menyarankan negara-negara anggota untuk menangani masalah perawatan dan pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar ini secara holistik. Artinya, perlu kebijakan dan praktik non-diskriminatif untuk mendukung pekerja dengan tanggung jawab keluarga serta berinvestasi dalam infrastruktur publik, khususnya listrik, air bersih, serta layanan sosial.

Selain itu, perlunya kebutuhan untuk kampanye penyadaran publik yang terintegrasi dan berkesinambungan. Hal ini dapat dilakukan melalui kerja sama erat dengan sektor swasta, organisasi media, dan masyarakat.

Inti dari kampanye ini adalah promosi kesetaraan gender untuk membantu mengurangi bagian yang tidak setara dari pekerjaan yang tidak dibayar antara anak perempuan dan anak laki-laki, perempuan dan laki-laki.

Partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi dan sosial

Ilustrasi perempuan pebisnis.

Direktur Eksekutif Sekretariat APEC, Rebecca Sta Maria, mengatakan situasi tanggungan pekerjaan kaum perempuan yang tidak setara dengan laki-laki ini mempengaruhi partisipasi mereka dalam kegiatan ekonomi dan sosial.

Maka dari itu, ketersediaan dan jangkauan data di area ini sangat penting dalam menekan otoritas di kawasan untuk penyesuaian kebijakan yang diperlukan.

“APEC harus terus memperjuangkan diskusi kebijakan yang lebih sering tentang pemberdayaan ekonomi perempuan, serta mempromosikan pentingnya data terpilah berdasarkan jenis kelamin, yang kemudian akan membuat ekonomi kita lebih inklusif, dengan manfaat yang nyata bagi semua orang,” ujar Sta Maria.

Related Articles