Comscore Tracker
NEWS

Walau Tren Covid-19 Menurun, Dunia Masih Berjuang Hadapi Pandemi

Semua negara berharap wabah akan segera usai.

Walau Tren Covid-19 Menurun, Dunia Masih Berjuang Hadapi PandemiIlustrasi virus korona. (ShutterStock/Corona Borealis Studio)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Pandemi belum juga usai. Hampir seluruh negara di dunia masih berjibaku dengan situasi pagebluk yang tak menentu. Ada beberapa negara yang sudah membaik dengan penurunan angka kasus yang signifikan, ada pula yang masih terus mengerahkan segala upaya untuk menekan angka kematian akibat Covid-19. Namun, yang pasti semuanya berharap wabah yang berdampak ke berbagai lini kehidupan ini segera usai.

Berdasarkan data yang tercatat di laman resmi World Health Organization (WHO) hingga Selasa (26/10), terdapat 243.857.028 kasus Covid-19 terkonfirmasi. Jumlah ini termasuk 4.953.246 kematian yang terjadi di seluruh dunia. Sementara, WHO juga melaporkan 6.697.607.393 dosis vaksin per 24 Oktober telah diberikan kepada penduduk dunia.

Secara umum, negara dengan kasus kumulatif tertinggi adalah Amerika Serikat (AS) dengan 45.107.253 kasus terkonfirmasi sejak awal pandemi. Kemudian, AS juga tertinggi untuk angka kumulatif jumlah kematian yang mencapai 730.306 kejadian. Negara lain dengan angka kasus tertinggi setelah AS, secara berurutan, India, Brasil, Inggris Raya (UK), Rusia. Pada daftar ini, Indonesia berada di urutan ke-14 dengan 4.241.090 kasus terkonfirmasi.

Berikut adalah beberapa kabar terkini dari berbagai belahan dunia, terkait situasi pandemi Covid-19 maupun vaksinasi yang sudah dilakukan dikutip dari The Straits Times.

Kabar dari kawasan Asia Tenggara

WHO melaporkan tren kasus Covid-19 di Asia Tenggara secara umum mengalami penurunan. Namun demikian, potensi lonjakan kasus tetap ada.

Terkini, seperti dikutip The Straits Times (26/10), Singapura dikabarkan mengizinkan para pelancong dari Australia dan Swiss untuk memasuki negaranya tanpa karantina mulai 8 November. Australia dan Swiss diketahui telah masuk ke dalam skema Vaccinated Travel Lane (VTL) Singapura, begitu pun sebaliknya. Namun, terkait Asutralia, pengaturan timbal balik untuk pemegang kartu pelajar dan bisnis dari Singapura diharapkan akan mulai diterapkan pada 23 November.

Bangkok, Thailand, juga tengah bersiap membuka pintu bagi para turis pada awal November. Tentunya, syarat dan ketentuan seperti vaksinasi penuh tetap akan diterapkan. Pandemi membuat jumlah pengunjung anjlok dari 40 juta pada 2019 menjadi 73.000 saja dalam delapan bulan pertama 2021. Ini merupakan situasi yang tidak terlalu baik bagi negara yang salah satu penunjang perekonomiannya adalah sektor pariwisata.

AS rencanakan vaksin bagi anak-anak

Secara kumulatif, AS merupakan negara dengan angka kasus dan kematian tertinggi di dunia akibat Covid-19. Namun demikian, melihat grafik yang dilaporkan WHO, angka penambahan kasus di AS sebenarnya juga mengalami penurunan.

Para penasihat pemerintah AS telah memberikan dukungan pada penggunaan vaksin Pfizer Covid-19 bagi anak-anak usia 5-11 tahun. Kemungkinan, dalam penerapan vaksin khusus anak-anak ini, dosis yang akan diberikan hanya 10 mikrogram. Sementara untuk usia dewasa mencapai 30 mikrogram. Dosis ini, menurut beberapa ahli, cukup aman bagi anak-anak.

"Cukup jelas bagi saya, bahwa manfaatnya (vaksin) lebih besar daripada risikonya ketika saya mendengar tentang anak-anak yang dirawat di ICU, yang memiliki hasil jangka panjang setelah Covid-19 mereka, dan anak-anak sekarat," kata Amanda Cohn dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), seperti dilansir dari The Straits Times (27/10).

Australia mulai membuka perbatasan negaranya

Negara Kangguru, Australia, akan mencabut larangan warganya untuk bepergian ke luar negeri tanpa izin. Pemerintah negara tersebut mengumumkan pada 27 Oktober bahwa perbatasan negara akan dibuka untuk pekerja terampil dan pelajar internasional pada akhir tahun. Hal ini untuk pertama kali dilakukan setelah Australia mulai menutup perbatasannya sejak Maret 2020.

Menteri Dalam Negeri Australia, Karen Andrews, mengatakan pembatasan perjalanan akan semakin dilonggarkan, termasuk untuk beberapa non-warga negara, karena tingkat vaksinasi meningkat.

Sementara itu, Perdana Menteri, Scott Morrison, mengumumkan bahwa dalam waktu dekat Australia akan mengizinkan perjalanan timbal balik dengan Singapura. Ini berarti, warga Australia tidak lagi perlu dikarantina saat pergi ke Singapura atau kembali dari sana.

"Kami juga sedang mengerjakan penjadwalannya dengan melihat para pemegang visa lainnya yang sudah dua kali vaksinasi, selain warga Australia yang kembali dari atau pergi ke Singapura, untuk dapat datang ke Australia," kata Morrison seperti dikutip dari The Straits Times.

Ada pun, Australia mencatatkan total kasus kumulatif (26/10) sebanyak 160.230. Selain itu, jumlah kematian totalnya mencapai 1.648.

Kasus di Tiongkok alami tren peningkatan

Sementara di wilayah Asia Tenggara dan Australia tren kasus Covid membaik, di Tiongkok justru sedang meningkat. Komisi Kesehatan Nasional (NHC) melaporkan 39 kasus baru pada Senin (25/10). Dari jumlah tersebut, 35 di antaranya merupakan transmisi lokal.

Gelombang terbaru itu, yang datang setelah peningkatan kasus di provinsi Fujian selatan, akan menjadi ujian bagi kebijakan nol toleransi Tiongkok terhadap Covid-19. Terlebih, pekan lalu Wakil Perdana Menteri, Sun Chunlan, mengatakan skala penularan virus sulit diprediksi lantaran sejumlah provinsi akan segera memasuki musim dingin.

Terkini, seperti diberitakan The Straits Times, Ibu kota Tiongkok, Beijing, melaporkan sekitar 20 kasus terbaru dalam lonjakan kasus terakhir di Tiongkok. Kota ini mengalami wabah Covid-19 terburuk dalam waktu lebih dari delapan bulan akibat sejumlah wisatawan yang kembali dari provinsi di utara. Banyak yang tanpa sadar menularkan virus ke orang lain sekembalinya mereka ke kampung halaman.

Secara nasional, Tiongkok melaporkan 54 infeksi pada hari Rabu, terbesar dalam satu hari sejak wabah dimulai minggu lalu. Sementara, hampir 10.000 turis saat ini terjebak di daerah terkunci yang berbatasan dengan Mongolia. Jumlah penularan pun mendekati 100 setelah hanya 10 hari.

Pejabat tinggi kesehatan China, Ma Xiaowei, mengunjungi daerah Ejin dan tempat tinggal para pelancong yang terdampar. Dia meminta rancangan rencana pemerintah daerah untuk mengirim mereka pulang dengan selamat, demikian pernyataan yang diterbitkan di situs web Komisi Kesehatan Nasional pada Rabu (27/10).

Related Articles