Comscore Tracker
NEWS

Wayang Kulit Dianggap Budaya Malaysia, Warganet Indonesia Kecam Adidas

Adidas angkat budaya Asia Tenggara sebagai ikon sepatu lari.

Wayang Kulit Dianggap Budaya Malaysia, Warganet Indonesia Kecam AdidasWayang Kulit. (Pixabay/farisshidqi)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Jenama Adidas baru saja meluncurkan 6 varian City Pack sebagai sentuhan ikonik pada sepatu lari UltraBOOST DNA yang bertemakan budaya beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Video promosi pun terunggah ke media sosial Instagram @adidassg. Namun, video itu langsung dikecam pengguna Instagram asal Indonesia. Pasalnya, akun Instagram Adidas menyebut wayang kulit disebut mewakili budaya Malaysia.

Pada unggahan varian City Pack buatan kreator Malaysia, Jaemy Choong, Adidas menuliskan, “Malaysia diwakili oleh desain @JAEMYC untuk UltraBOOST DNA City Pack. Terinspirasi oleh kekayaan budaya Malaysia, desain tersebut memberi penghormatan kepada wayang kulit, bagian penting dari identitas dan warisan budaya Malaysia dengan memadukan unsur-unsur wayang kulit dengan palet warna modern, saat ‘lawas bertemu baru’.”

Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah menetapkan wayang kulit sebagai warisan budaya dunia tak benda sejak 7 November 2003. Tanggapan bermunculan, hingga unggahan tentang varian City Pack yang dibuat oleh kreator asal Malaysia, Jaemy Choong, mendapat komentar terbanyak di antara 5 varian lain, yakni 39.830 komentar per (17/11). Sementara, unggahan lain hanya sekitar 50-450 komentar saja.

Ragam komentar warga internet pada kasus wayang kulit

Sebagian besar komentar memang berasal dari pengguna instagram yang tidak terima budaya wayang kulit dianggap identitas Malaysia. Umumnya, komentar yang muncul menekankan bahwa wayang kulit adalah budaya Indonesia.

Salah satu komentar bahkan menjelaskan asal-usul kata wayang yang berasal dari  kata ‘ma Hyang’ dengan arti perjalanan menuju tanah spiritual, yang merepresentasikan Tanah Jawa. “Wayang terkenal dengan pertunjukannya yang punya pengaturan rumit dan bentuk cerita kuno ini berasal dari Pulau Jawa, Indonesia,” tulis akun tersebut.

Seniman wayang Indonesia, Sudjiwo Tedjo, memberikan tanggapan netral. “Mau disebut wayang dari Malaysia/Hongkong dll., monggo…Aku ndak patheken (tidak apa-apa). Daripada sok murka tapi sejatinya enggak pernah nonton wayang!!!” tulisnya di akun Twitter.

Adidas menanggapi insiden yang terjadi dengan permintaan maaf

Mengetahui semakin banyak warga internet yang kecewa atas insiden penyebutan wayang kulit sebagai budaya Malaysia, Adidas Singapura pun langsung segera mengubah caption yang tertambat pada unggahan tersebut. Pihak Adidas Singapura pun meminta maaf atas kontroversi yang terjadi.

“Berasal dari Indonesia, wayang kulit menginspirasi wilayah lain di Asia Tenggara. Desain UltraBOOST DNA City Pack memberi penghormatan kepada palet warna modern dalam pendekatan ‘lawas bertemu baru pada DNA UltraBOOST,” tulis Adidas merevisi kesalahan sebelumnya.

Selain itu, melalui fitur Instastory, Adidas juga memberikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas kekeliruan penyebutan yang terjadi. Mereka menegaskan bahwa jenama maupun seniman pembuatnya tidak memiliki niat sama sekali untuk mengklaim seni budaya dari Indonesia. “Ketika wayang kulit adalah bagian signifikan dalam warisan budaya Malaysia, kami seharusnya menekankan asalnya dari Indonesia pada unggahan kami," begitu bunyi permintaan maaf Adidas Singapura (16/11).

Kreator Indonesia ambil bagian dalam varian City Pack UltraBOOST DNA

Adidas UltraBOOST DNA City Pack adalah produk terbaru jenama Adidas yang diluncurkan secara resmi di pasar internasional pada (11/11). Pada koleksi ikonik ini, Adidas bekerja sama dengan 6 kreator asal Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Singapura.

“Kami ingin menciptakan desain yang bermakna yang mewakili berbagai identitas tersebut, dalam siluet yang sangat disukai yang dapat menarik para konsumen,” kata Cinita Dewi Mayakatri, Senior Brand Manager Adidas Indonesia, pada Minggu (14/11).

Terlepas dari kontroversi wayang kulit yang terjadi, Adidas sebenarnya juga berkolaborasi dengan Calla The Label yang mewakili Indonesia dalam jajaran desain ikonik City Pack. Pada varian Indonesia, Yeni Afriyani, founder Calla The Label mengambil beberapa bentang budaya serta warna khas Indonesia sebagai inspirasi. “Sebagai merek lokal, momentum ini adalah kesempatan luar biasa untuk mempertunjukkan negara kita yang indah,” katanya seperti dikutip Antara (15/11).

Related Articles