DEN Ingatkan Prabowo Soal El Nino Dapat Berlanjut hingga 2027

- DEN mengingatkan Presiden Prabowo bahwa El Nino berpotensi berlangsung hingga kuartal I-2027, mengancam produksi pertanian, pasokan pangan, dan stabilitas harga bahan pokok.
- Pemerintah diminta memakai data BMKG untuk menentukan waktu tanam, memetakan risiko kekeringan serta banjir, dan menyiapkan mitigasi termasuk pompa serta penundaan tanam.
- BMKG memproyeksikan musim hujan 2026 mundur di 529 zona musim; DEN mendorong kecukupan cadangan beras dan intervensi pasar bila harga pangan bergejolak.
Jakarta, FORTUNE – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengingatkan Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi fenomena iklim, El Nino, yang dapat berlanjut hingga kuartal I-2027. Kondisi tersebut berisiko mengganggu produksi pertanian, ketersediaan pangan, hingga stabilitas harga bahan pokok, terutama jika musim hujan datang lebih lambat dari kondisi normal.
Peringatan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10). DEN juga meminta pemerintah bersiap menghadapi potensi La Nina yang dapat meningkatkan risiko banjir pada pertengahan tahun depan.
Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan pihaknya telah menyampaikan pentingnya mencermati perkembangan kondisi iklim berdasarkan data dan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut dia, perubahan pola cuaca perlu diantisipasi melalui perencanaan matang, terutama dalam menentukan waktu tanam dan memastikan ketersediaan pangan nasional.
Dalam hematnya, pemerintah perlu menyiapkan langkah cadangan demi menghadapi risiko bencana alam yang dapat diperkirakan, meskipun tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Persiapan tersebut mencakup penentuan waktu tanam dan berbagai langkah mitigasi sesuai dengan kondisi wilayah.
“Karena itu masalah alam. Tapi bisa diprediksi bakal terjadi, terus apa langkah-langkah kita. Misalnya tadi untuk penyiapan pangan, kapan mungkin menanam mulai, dan seterusnya,” kata Luhut seperti dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden..
Wakil Ketua DEN, Marie Elka Pangestu, mengatakan fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga kuartal pertama 2027 dan berpotensi disusul La Nina pada pertengahan tahun depan. Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan dengan memanfaatkan data cuaca demi memetakan wilayah yang berisiko mengalami kekeringan, banjir, maupun bencana lainnya.
“Kami menyarankan menggunakan data dengan baik untuk mengidentifikasi titik-titik yang akan mengalami kekeringan dan di situ harus ada antisipasi dari segi pompa, penggunaan pompa yang tepat, kapan harus tanam, mungkin harus ditunda misalnya karena kekeringan dan juga mengantisipasi banjir dan kemungkinan dampak bencana,” ujar Marie.
Musim hujan berpotensi mundur
Peringatan DEN tersebut sejalan dengan prakiraan BMKG yang dirilis pada 6 Oktober 2026.
Data BMKG menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada Agustus 2026 mencapai +2,83 derajat. Sementara itu, indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) pada periode Juni–Agustus 2026 mencapai +2,20, yang menunjukkan fase El Niño sangat kuat.
BMKG memperkirakan kondisi El Niño bertahan hingga awal 2027. Pada saat bersamaan, awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemunduran dibandingkan dengan kondisi normal.
Sebanyak 529 Zona Musim (ZOM), yang mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia, diperkirakan mengalami awal musim hujan yang lebih lambat. Adapun 26 ZOM atau 2,15 persen luas daratan Indonesia diperkirakan memasuki musim hujan sesuai dengan waktu normal.
BMKG memperkirakan sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November 2026, yakni sebanyak 185 ZOM atau mencakup 24,66 persen luas daratan Indonesia. Pada Desember 2026, jumlahnya diperkirakan bertambah menjadi 266 ZOM yang mencakup 17,31 persen luas daratan Indonesia.
Musim hujan diperkirakan bermula dari wilayah Sumatra bagian utara, kemudian bergerak secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Selain mitigasi dampak cuaca terhadap pertanian, DEN menekankan pentingnya menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan. Pemerintah didorong memastikan stok cadangan pangan, khususnya beras, tetap mencukupi dalam menghadapi kemungkinan gangguan produksi maupun distribusi.
DEN juga merekomendasikan pemerintah menyiapkan intervensi pasar jika terjadi gejolak harga. Operasi pasar dapat dilakukan apabila diperlukan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Hampir semua insiden El Nino itu pasti dibarengi dengan kenaikan harga pangan. Dan ini sesuatu yang harus benar-benar kita antisipasi,” ujar Mari.

























