Comscore Tracker
NEWS

Ekspor Pertanian Tumbuh 20,3 Persen, Kementan Fokus Menaikkan Produksi

Pemerintah telah setop impor beras sejak 2019.

Ekspor Pertanian Tumbuh 20,3 Persen, Kementan Fokus Menaikkan ProduksiANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pertanian pada Mei 2022 naik 20,32 persen (year on year) atau US$290 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut membuat  pertanian Indonesia tahun ini menyumbang 1,36 persen dari total ekspor.

Secara akumulatif Januari hingga Mei 2022, sektor pertanian naik 13,34 persen yaitu dari US$1,63 miliar menjadi US$1,84 miliar. Dari angka tersebut, pertanian memiliki total share 1,60 persen dari total share nonmigas yang mencapai 95,58 persen. Dengan demikian total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari–Mei meningkat 36,34 persen atau US$84,33 miliar menjadi US$114,97 miliar.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri, mengatakan saat ini jajaran Kementan fokus melakukan berbagai upaya peningkatan produksi dan mendorong penguatan ekspor untuk kesejahteraan petani.

"Semua komoditas pangan terus kami dorong agar produksinya meningkat sehingga ekspor nasional juga ikut meningkat. Pemerintah bahkan sudah memiliki program geratieks (gerakan tiga kali ekspor) dan juga layanan KUR (kredit usaha rakyat) khusus pertanian untuk mendorong modal usaha tani agar lebih berkembang," katanya, melalui keterangan tertulis, Kamis (16/6).

Indonesia sukses meningkatkan produksi padi sehingga dalam kurun waktu 3 tahun terakhir tidak melakukan impor beras. Padahal, biasanya Indonesia melakukan impor sebanyak 1,5 sampai 2 juta ton beras setiap tahun.

Realisasi produksi beras

Ilustrasi persawahan.

Produksi beras nasional pada 2019 mencapai 31,31 juta ton, kemudian meningkat pada 2020 menjadi 31,36 juta ton, dan pada 2021 sebesar 31,33 juta ton.

Pemerintah telah menutup keran impor beras secara besar-besaran sejak 2019. Izin impor beras saat ini hanya untuk keperluan khusus, seperti untuk keperluan hotel, restoran, kafe, serta warga negara asing yang tinggal di Indonesia.

Beras khusus tersebut, seperti beras Basmati, Japonica, Hom Mali, serta beras pecah 100 persen untuk keperluan bahan baku industri.

BPS juga mencatat potensi peningkatan produksi beras pada periode Januari-April 2022. Potensi tersebut didorong peningkatan pada potensi total luas panen padi untuk Januari-April 2021 sebesar 380 ribu hektare atau 8,58 persen menjadi 4,81 juta hektare.

Ada wacana ekspor beras

Perum Bulog berencana untuk mengekspor beberapa hasil pangan, salah satunya beras. Beras yang akan diekspor berasal dari daerah dengan biaya logistik yang tinggi, seperti Maluku.

Direktur Utama Bulog, Budi Waseso atau Buwas, mengatakan pihaknya sedang membuktikan bahwa pemerintah dapat melakukan swasembada pangan, khususnya untuk komoditas beras. Salah satu pembuktian yang dimaksud adalah tidak adanya impor beras selama tiga tahun terakhir.

"Kalau dilihat ada impor beras, itu adalah beras khusus. Tetapi, untuk kebutuhan secara umum, kita tidak ada impor, karena cukup," kata ujar Buwas saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (10/5).

Dia menyebutkan pihaknya sedang mengupayakan ekspor beras ke beberapa negara yang membutuhkan. Buwas menyampaikan pihaknya sedang menjajaki bersama kementerian terkait tentang kemungkinan ekspor beras asal Maluku ke Timor Leste.
 

Related Articles