Comscore Tracker
NEWS

Direktur Meta Indonesia Beberkan Dampak Ekonomi Metaverse

Metaverse bisa tingkatkan PDB global sebesar US$3 triliun.

Direktur Meta Indonesia Beberkan Dampak Ekonomi MetaverseCountry Director Meta Indonesia, Pieter Lydian, saat menghadiri Fortune Indonesia Breakfast Club bertajuk “Instagram Reels: The Future of Video Today” yang diselenggarakan pada Jumat (14/1/22) di Four Seasons Hotel, Jakarta (Fortune Indonesia/Ridho Fauzan

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Country Director for Meta Indonesia Pieter Lydian membeberkan potensi dampak ekonomi dari metaverse dalam satu dekade ke depan. Menurutnya, teknologi imersif tersebut bakal meningkatkan produk domestik bruto (PDB) dunia hingga US$3 triliun.

Proyeksi tersebut didasarkan pada riset yang dipublikasikan Analysis Group yang dirilis pada Senin, 16 Mei 2022. "Ada riset dari Analysis Group, baru dipublikasi 2-3 hari lalu. pertama diprediksi 10 tahun ke depan akan terjadi ekonomi baru US$3 triliun. That's big number. Tiga triliun us dollar itu equal 2,8 persen GDP dunia," ujarnya dalam Fortune Indonesia Summit 2022, Kamis (19/5).

Ia juga menuturkan bahwa Asia akan mendapatkan dampak ekonomi cukup besar yakni sekitar US$1 triliun. Ini lantaran adopsi teknologi di Asia telah melebihi rata-rata dunia. "Kalau di Asia tenggara bagaimana? Kita ada di front and center dari transformasi. Adopsi mobile kita 74 persen dicompare dengan 64 persen dunia," tuturnya.

Peluang dan Tantangan

Sementara itu, khusus untuk Indonesia, menyampaikan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun, peluangnya adalah pengembang dalam teknologi AR dan VR (Augmented reality and virtual reality).

"Kami mengajak teman-teman, opportunity paling besar bagi AR VR creator. Kalau kita lihat jumlahnya itu termasuk lima besar loh di dunia, jadi kita sudah menuju arah yang tepat," tuturnya.

Tantangan selanjutnya adalah mempersiapkan konten kreator yang siap untuk masuk ke dalam metaverse. "Kemudian kalau kita bicara 5-10 tahun, talent itu penting untuk dipersiapkan," imbuhnya.

Menurut Pieter, metaverse akan bukan hanya akan menjadi tren baru dalam bermedia sosial melainkan juga akan memunculkan solusi-solusi baru atas berbagai problem yang dihadapi Indonesia saat ini.

Ia mencontohkan, misal, akses terhadap pasar yang masih timpang antara daerah perkotaan dan pedesaan. "Teknologi harus didorong ke tempat di mana kita menyelesaikan banyak masalah di mana di Indonesia kita punya distribusi. Kita mengajak banyak pihak untuk membangun bersama baik dari Telkom, pengusaha, industri bahkan regulator," jelasnya.

Di sisi lain, ada pula potensi masalah yang muncul dari implementasi teknologi ini. Karena itu, kata Pieter, Meta telah berinvestasi cukup besar termasuk untuk menginventarisasi masalah-masalah yang berpotensi muncul ketika teknologi ini diimplementasikan.

"Kalau bicara risiko dan masalah sosial, biasanya kalau perusahaan punya inovasi itu diam-diam, baru diumumkan saat dirilis supaya dapat laba. Nah, kenapa Meta bisa deklarasi sekarang, tujuannya mendorong dialog, diskusi supaya kita bisa meregulasi potensi masalahnyam. Kita juga mempunyai US$50 juta untuk riset mengenai potensi masalah supaya bisa menangani masalah nantinya, setidaknya inventarisasi dan identifikasi masalah," tandasnya.

Related Articles