Comscore Tracker
NEWS

Dolar Menguat, Perusahaan-perusahaan Asia Tertekan Beban Utang

Rasio cakupan bunga perusahaan Indonesia merosot pada Maret.

Dolar Menguat, Perusahaan-perusahaan Asia Tertekan Beban UtangIlustrasi pemimpin perusahaan. Shutterstock/JOKE_PHATRAPONG

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Perusahaan-perusahaan Asia dengan utang berdenominasi dolar diprediksi kian tertekan dengan akibat kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reverse. Pasalnya, tingkat suku bunga tinggi membuat greenback menguat dan membuat beban bunga semakin mahal.

Mengutip Reuters, Selasa (12/7), rasio cakupan bunga perusahaan-perusahaan ini—ukuran seberapa mudah mereka dapat membayar bunga atas utang yang belum dibayar—merosot menjadi 5,1 pada akhir Maret. Ini merupakan rasio terendah dalam setahun belakangan, terutama disebabkan oleh meningkatnya tekanan terhadap perusahaan-perusahaan di China, Korea Selatan, Indonesia, dan Vietnam.

Reuters menganalisis 1.700 perusahaan Asia (tidak termasuk perusahaan keuangan) yang data pembandingnya tersedia dari Refinitiv. Perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar gabungan lebih dari US$1 miliar ini secara total telah mengumpulkan US$338 miliar dolar dan utang di euro tahun lalu. Sementara akhir Maret 2022, utang perusahaan-perusahaan Asia telah melonjak menjadi US$6,7 triliun, naik seperempat dari dua tahun sebelumnya.

Penguatan dolar juga menghantam perusahaan kecil, yang melakukan sebagian besar bisnis secara lokal dan tidak memiliki banyak ekspor untuk meningkatkan nilai pendapatan.

Apalagi, kondisi bisnis telah memburuk karena harga bahan baku melonjak dan perusahaan telah berjuang untuk membebankan biaya tambahan kepada pelanggan demi menjaga margin.

"Risiko mata uang diletakkan di bawah karpet dalam lima tahun terakhir karena suku bunga tetap rendah dan mata uang regional tetap tahan terhadap kondisi ekonomi yang lebih lemah," kata analis S&P Global Xavier Jean.

"Seiring kenaikan suku bunga, kami pikir risiko mata uang akan lebih menonjolkan opsi penggalangan dana dan kemampuan serta kemauan perusahaan untuk mendanai dalam dolar AS dan ke dalam situasi sulit."

Rasio cakupan bunga untuk perusahaan Indonesia, yang menurut Jean cenderung menjadi peminjam yang cukup besar dalam mata uang asing, kini turun menjadi -4,10 pada akhir Maret, dari tertinggi secara tahunan di 25,13 pada akhir September 2021.

Sementara rasio untuk perusahaan China turun menjadi 3,02 dari 5,10 pada periode yang sama. Padahal, kata Herald van der Linde, ahli strategi ekuitas senior di HSBC, perusahaan properti China—yang berada di bawah tekanan sejak krisis Evergrande Group tahun lalu—masih berjuang untuk membiayai kembali utang mereka. 

Perusahaan-perusahaan ini memiliki obligasi dolar dengan nilai US$12,9 yang jatuh tempo pada paruh kedua tahun 2022.

Lindung nilai lemah

Namun, tidak ada indikasi bahwa sebagian besar perusahaan Asia tidak akan memenuhi pembayaran utang. Memang, skor median mereka dalam rasio lain—utang bersih terhadap pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi— berada pada posisi terendah dalam tujuh tahun di 2,5 pada akhir Maret. Rasio yang lebih tinggi dari 3 dianggap sebagai penyebab kekhawatiran.

Sementara perusahaan besar Jepang dan Korea Selatan, termasuk SoftBank Group Corp, mengeluarkan utang miliaran dolar tahun lalu, ini biasanya dilindung nilai terhadap apresiasi dolar. Mata uang lokal yang lemah juga meningkatkan nilai aset dolar dan ekspor mereka.

Tetapi, lindung nilai yang lemah untuk perusahaan-perusahaan kecil di negara-negara termasuk Indonesia dan Vietnam cenderung mengikis neraca.

"Pembangun rumah Indonesia memiliki eksposur tinggi terhadap dolar AS yang lebih kuat, karena lindung nilai mereka hanya efektif sebagian, dan sebagian besar utang emiten terutama dalam mata uang dolar AS sementara arus kas dalam mata uang lokal," kata Matt Jamieson, seorang analis senior. di Fitch.

Pembangun rumah Asia, utilitas dan pemasok bahan baku adalah industri utama dengan utang valas jatuh tempo tahun ini, katanya.

Jean dari S&P mengatakan kualitas kredit untuk setidaknya satu dari delapan perusahaan dapat ditekan dalam 12 bulan ke depan karena kenaikan suku bunga. Angka itu bisa naik menjadi satu dari enam jika inflasi terus berlanjut.

Di sisi lain, pinjaman berdenominasi dolar juga telah anjlok. Ini ditandai dengan perusahaan-perusahaan Asia yang hanya menerbitkan 98 obligasi dalam mata uang dolar atau euro pada semester pertama tahun ini, paling sedikit dalam enam tahun dan turun dari 338 tahun lalu.

Related Articles