Begawan Bisnis Tanah Air, Michael Bambang Hartono, Wafat dalam Usia 86

Michael Bambang Hartono, salah satu pemilik Djarum dan pengendali BCA, wafat di Singapura pada 19 Maret 2026 dalam usia 86 tahun.
Berawal dari kebangkitan Djarum pasca kebakaran 1963 hingga akuisisi BCA pada 2002, keluarga Hartono menjelma menjadi konglomerasi besar Indonesia.
Kekayaan Bambang mencapai US$17,5 miliar dengan bisnis di tembakau, perbankan, properti, elektronik, serta dikenal sebagai atlet bridge peraih medali Asian Games 2018.
Jakarta, FORTUNE - Kabar duka menyelimuti jagat bisnis nasional. Michael Bambang Hartono, salah satu pemilik imperium Djarum sekaligus juga pemegang saham pengendali PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dilaporkan tutup usia. Taipan yang memiliki nama lahir Oei Hwie Siang ini dikabarkan melepas napas terakhirnya di Singapura pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 13.15 waktu setempat.
Dia wafat dalam usia 86.
Informasi yang dikutip dari CNBC Indonesia menyebutkan bahwa kepergian sosok yang akrab disapa Bambang ini menjadi kehilangan besar bagi dunia usaha. Mengenai rencana peristirahatan terakhir, Juru Bicara PT Djarum, Budi Darmawan, menyatakan bahwa almarhum akan dimakamkan di Jawa Tengah. "Rencana akan dimakamkan di Jawa Tengah. Menunggu info dari keluarga,” ujar Budi sebagaimana dikutip Kontan.
Jejak Bambang Hartono adalah potret ketangguhan konglomerasi domestik. Lahir di Kudus pada 2 Oktober 1939, ia dan adiknya, Robert Budi Hartono, mewarisi pabrik rokok Djarum dari ayahnya, Oei Wie Gwan. Menurut laporan CNBC Indonesia, saat itu Djarum nyaris hancur akibat kebakaran hebat pada 1963. Di tangan Bambang dan Robert Budi, pabrik yang luluh lantak itu bangkit menjadi raksasa industri rokok yang merambah pasar internasional.
Ekspansi bisnis keluarga Hartono mencapai puncaknya saat mereka membidik sektor keuangan pasca-krisis moneter 1997-1998. Melalui FarIndo Investments (Mauritius) Limited, keluarga Hartono mengambil alih mayoritas saham BCA dari tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada April 2002. Momen ini terjadi setelah keluarga Salim kehilangan kendali atas bank tersebut.
Transaksi tersebut menjadikan keluarga Hartono sebagai pemegang saham mayoritas baru dengan kepemilikan 52,4 persen hingga akhir 2002. Di bawah naungan mereka, BCA bertransformasi menjadi bank swasta dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa nasional.
Kesuksesan ini menempatkan Bambang di jajaran elite orang terkaya dunia. Menurut data real-time Forbes, kekayaan Bambang mencapai US$17,5 miliar (atau lebih dari Rp297 triliun).
Gurita bisnisnya tidak berhenti di tembakau dan perbankan. Selain memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat, pundi-pundi kekayaannya juga mengalir dari sektor properti melalui Grand Indonesia, serta industri elektronik lewat merk Polytron.
Michael Bambang memiliki empat anak, yakni Roberto Setiabudi, Vanessa Ratnasari, Stefanus Wijaya, dan Tessa Natalia Hartono.
Di luar urusan neraca keuangan, Bambang dikenal sebagai olahragawan. Ia dikenal secara luas sebagai atlet bridge dan meraih medali perunggu pada Asian Games 2018. Sosoknya tetap bersahaja; bonus atlet yang diterimanya dari Presiden Joko Widodo seluruhnya disumbangkan untuk pengembangan atlet bridge di Indonesia. IDN Times mencatat ia memiliki jasa besar bagi klub Italia, Como 1907, yang dibeli pada 2019 seharga 850 ribu euro, dan kini menjadi bagian dari tim papan atas Serie A.
















