Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Indef Ingatkan Risiko di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61%

Indef Ingatkan Risiko di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61%
Ilustasi Ekonomi Tumbuh 5% ,tapi dompet kelas menengah semakin menipis (Gambar dibuat menggunakan AI)

Jakarta, FORTUNE - Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen mulai menuai sorotan dari kalangan ekonom. Di tengah capaian tersebut, sejumlah indikator dinilai menunjukkan kondisi ekonomi domestik belum sepenuhnya kuat, mulai dari pelemahan rupiah hingga dominasi sektor informal di pasar tenaga kerja.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menilai pertumbuhan ekonomi yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) perlu dicermati lebih dalam karena belum sepenuhnya tercermin pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Sebenarnya pertumbuhan 5,61 persen itu di sisi lain kita melihat ada banyak catatan. Artinya rupiah tetap terdepresi ya sekitar 17.300 untuk satu dolar, satu US dolar. Kemudian di sisi lain juga kita melihat bahwa pengangguran masih turun tipis dan adanya sektor informal yang mendominasi," kata Esther dalam Diskusi Publik Menjaga Stamina Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Jakarta, Senin (11/5).

Esther menambahkan, hal itu berarti banyak pekerja tenaga kerja yang bekerja di sektor informal ini lebih banyak dibandingkan dengan sektor forma. Dengan demikian, situasi tersebut mencerminkan adanya “paradoks pertumbuhan”, ketika ekonomi tumbuh tinggi tetapi dampak penggandanya belum dirasakan luas oleh masyarakat maupun dunia usaha.

Ia juga menyoroti meningkatnya keraguan di sektor keuangan yang terlihat dari aliran modal asing keluar (capital outflow) serta percepatan defisit fiskal. "Di sektor keuangan pun itu ada keragu-raguan gitu. Nah, defisit fiskal juga terakselerasi di mana investor ya itu ada capital outflow dari investor, artinya investor itu juga relatif pergi," katanya, menambahkan.

Dengan kata lain, pertumbuhan 5,61 persen ini efeknya itu belum terlalu terasa, sebab ada paradoks pertumbuhan ekonomi. Indef pun mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berpatokan pada angka pertumbuhan ekonomi dalam merumuskan kebijakan publik. Esther menilai data makro yang terlihat positif berpotensi menimbulkan persepsi keliru apabila tidak diikuti pembacaan kondisi riil di lapangan. Lalu, apa yang perlu diwaspadai jika pertumbuhan ekonomi, tapi multiplier effect-nya itu belum terasa?

"Jangan sampai nanti kebijakan publik yang diambil itu salah gitu ya karena dengan data tersebut mungkin juga akan menjadi misleading gitu bagi pengambilan kebijakan publik. Nah, di sisi lain juga akan ada penurunan kepercayaan publik," ujarnya, menegaskan.

Selain itu, Esther menilai tekanan ekonomi juga tercermin dari terus menyusutnya kelompok kelas menengah di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi iklim investasi dan menambah tekanan terhadap kondisi fiskal nasional apabila tidak segera diantisipasi.

"Di Indonesia masih ada yang namanya penurunan kelas menengahh, sehingga kami tidak berharap bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini, ada ketidakpastian investasi bagi pengusaha sehingga kerugian fiskal dan dampak fiskal pun akan lebih terasa nantinya," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Related Articles

See More

Indef Ingatkan Risiko di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61%

11 Mei 2026, 16:59 WIBNews