Mirip Dubai, Financial Center Bali Janjikan Insentif dan Modal Asing

- Pemerintah merancang Indonesia Financial Center di Bali dengan konsep mirip Dubai International Financial Centre, menawarkan insentif dan sistem hukum berbasis common law untuk menarik investor global.
- Kawasan ini akan menjadi zona ekonomi khusus dengan kebijakan pajak berbeda, memungkinkan arus modal asing masuk tanpa dikenai pajak langsung demi memperkuat pembiayaan proyek strategis nasional.
- Dana yang masuk dapat dialokasikan ke proyek pemerintah maupun swasta serta instrumen surat utang negara, diharapkan memperluas basis investor dan menjaga stabilitas rupiah.
Jakarta, FORTUNE - Pemerintah tengah mematangkan rencana besar membangun Indonesia Financial Center di Bali. Proyek ini dirancang menyerupai Dubai International Financial Centre guna memacu aliran modal global masuk ke Tanah Air. Skema insentif khusus disiapkan sebagai daya pikat utama bagi para pemodal mancanegara.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, membeberkan kawasan tersebut akan memiliki aturan hukum dan insentif yang berbeda dari wilayah Indonesia lainnya. Lahan seluas seratus hektare lebih bakal disulap menjadi kawasan ekonomi khusus.
“Yang akan kita buat adalah seperti di Dubai, yang menjadikan kawasan ekonomi khusus,” ujar Purbaya dalam konferensi pers hasil rapat berkala KSSK II/2026 yang disiarkan secara virtual, Kamis (7/5).
Demi menjamin kenyamanan investor internasional, kawasan ini akan menerapkan sistem hukum tertentu berbasis common law. Hal ini dimaksudkan demi memberikan kepastian hukum mumpuni. Ihwal perpajakan, Purbaya menjanjikan kelonggaran besar bagi dana yang masuk.
“Uang bisa masuk dari luar negeri ke situ. Enggak saya pajakin,” katanya.
Kendati memberikan "obral" pajak, Menkeu menepis kekhawatiran ihwal hilangnya potensi penerimaan negara. Arus modal tersebut justru dibidik menjadi sumber pembiayaan baru bagi berbagai proyek strategis nasional.
“Nanti teman-teman ekonom bilang rugi dong kalau begitu. Enggak, tadi juga enggak ada apa-apa,” ujarnya.
Purbaya menggarisbawahi dana yang terhimpun nantinya dapat dialirkan ke berbagai instrumen investasi. Mulai dari proyek milik Danantara, sektor swasta yang prospektif, hingga instrumen surat utang negara. Dengan demikian, basis investor untuk pembiayaan APBN niscaya makin luas.
“Bisa juga mereka investasi di bond saya, di surat utang saya. Jadi pembeli saya juga bertambah bagus,” ujarnya.
Purbaya menekankan, pusat keuangan ini bukan merupakan kawasan eksklusif yang tertutup. Sebaliknya, proyek ini diharapkan menjadi pintu gerbang bagi modal global untuk merembes ke sektor riil di seluruh pelosok negeri.
“Jadi bukan kawasan besar, ratus ribuan hektare, tidak. Segitu, intinya nanti dia bisa nyerang keluar itu,” katanya.
Pemerintah juga siap menggelontorkan insentif tambahan bagi pelaku usaha di sana. Harapannya, stabilitas nilai tukar rupiah akan semakin kokoh seiring derasnya pasokan dolar dari luar negeri.
“Kita jadi punya sumber pembiayaan baru yang mungkin lebih murah dari sekarang dan membuat pembiayaan kita lebih sustainable. Dan kalau yang masuk dari luar negeri dolarnya banyak, rupiahnya juga akan lebih stabil,” ujar Purbaya.
Saat ini, desain final Indonesia Financial Center masih dalam tahap penyempurnaan. Namun, pemerintah memasang target agar proyek mercusuar ini dapat segera bergulir dalam waktu dekat.


















