NEWS

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2023 Melambat, Ini Biang Keroknya

Ada El Nino dan perlambatan ekonomi global..

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2023 Melambat, Ini Biang KeroknyaIlustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Markus Spiske)

by Hendra Friana

05 February 2024

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 mengalami pelambatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun lalu perekonomian tumbuh 5,05 persen, lebih rendah ketimbang pertumbuhan periode sama pada 2022 yang mencapai 5,31 persen.

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan salah satu penyebab perlambatan tersebut adalah rambatan perekonomian global. Ini terlihat dari sumber pertumbuhan ekonomi dari sektor ekspor-impor hanya yang mencapai 0,66 persen, turun dari 0,75 persen pada tahun lalu.

"Perekonomian global yang melambat jadi salah satu faktor pelambatan perekonomian Indonesia. Perlambatan ini menunjukkan ekonomi Indonesia tetap solid dan tumbuh dengan terjaga dan positif di kisaran 5,05 persen. Ini merupakan salah satu kinerja yang perlu kita banggakan," ujar Amilia dalam konferensi pers, Senin (4/2).

Dari sisi lapangan usaha, perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 dipicu oleh penurunan kinerja sektor pertanian akibat El Nino. Sektor pertanian, yang berkontribusi 12,35 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hanya tumbuh 1,30 persen sepanjang tahun lalu.

Padahal pada tahun 202, sektor ini mampu berkontribusi 12,40 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan sebesar 2,25 persen.

PDB per kapita Rp75 juta

Perekonomian Indonesia 2023 yang diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp20.892,4 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp75,0 juta atau US$4.919,7.

Dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sepanjang 2023, yakni 10,33 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen PK-LNPRT mengalami pertumbuhan tertinggi mencapai 18,11 persen.

Meski demikian, lapangan usaha transportasi dan perundangan hanya memberikan kontribusi 5,89 persen terhadap PDB nasional, sementara komponen PK-LNPRT hanya memberikan sumbangsih 1,25 persen terhadap perekonomian nasional.

Secara spasial, provinsi menurut pulau yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah Maluku dan Papua, Sulawesi, serta Kalimantan, yakni masing-masing 6,94 persen; 6,37 persen; dan 5,43 persen. Sedangkan kelompok provinsi di Pulau Jawa yang berkontribusi sebesar 57,05 persen terhadap perekonomian nasional mencatat pertumbuhan 4,96 persen.