Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Investasi US$36 Juta, Kilang LPG Cilamaya Produksi 160 Ton per Hari
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersama Dirjen Migas Laode Sulaeman, Dirut PT Energi Nusantara Perkasa (ENP). meresmikan Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat pada hari ini, Kamis (15/10). (Tangkapan layar YouTube Kementerian ESDM)
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meresmikan Kilang LPG Cilamaya milik ENP di Karawang, Jawa Barat, yang dibangun dengan investasi US$36,93 juta.
  • Kilang berkapasitas 160 ton LPG per hari ini berpotensi memenuhi 10–15 persen kebutuhan LPG Jawa Barat dan DKI Jakarta, sekaligus menghasilkan kondensat 320 barel per hari.
  • Fasilitas ini mendukung peningkatan produksi domestik untuk menekan impor LPG, saat kebutuhan nasional 8,5 juta ton per tahun sementara produksi lokal maksimal 1,8 juta ton.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meresmikan kilang liquefied petroleum gas (LPG) Cilamaya milik PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10).

Dengan investasi US$36,93 juta, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi 160 ton LPG per hari.

Bahlil mengatakan produksi kilang tersebut berpotensi memenuhi sekitar 10–15 persen kebutuhan LPG di Jawa Barat dan DKI Jakarta, yang diperkirakan mencapai 1.000–1.500 ton per hari.

“Kita berangkat dari hal kecil. Untuk mencapai hal besar, kecil tidak apa-apa,” kata Bahlil dalam peresmian yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian ESDM.

Menurut Bahlil, keberadaan kilang ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produksi LPG domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dia menjelaskan konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun. Jika ditambah kebutuhan industri petrokimia, termasuk Lotte dan Chandra Asri di Cilegon, total kebutuhan diperkirakan mencapai 11–12 juta ton per tahun.

Sementara itu, produksi LPG dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun. Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta–8 juta ton LPG setiap tahun.

Bahlil menambahkan besarnya ketergantungan impor turut membebani anggaran subsidi energi. Ketika harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berkisar US$70 per barel, subsidi LPG untuk masyarakat mencapai Rp87 triliun.

Saat ICP meningkat ke kisaran US$90–100 per barel, beban subsidi tersebut mendekati atau melampaui Rp100 triliun.

Direktur Utama ENP, Sarjono, mengatakan Kilang LPG Cilamaya dirancang mengolah gas bumi dengan kapasitas terpasang 40 MMSCFD dan maksimum 44 MMSCFD. Selain menghasilkan LPG sebanyak 160 ton per hari atau 52.800 ton per tahun, fasilitas ini mampu menghasilkan kondensat sekitar 320 barel per hari.

Kilang tersebut memanfaatkan pasokan gas dari wilayah lepas pantai offshore Northwest Java. Dalam proses pengolahannya, ENP menggunakan kombinasi teknologi mechanical refrigeration dan turbo expander untuk mengoptimalkan perolehan LPG.

Dengan beroperasinya Cilamaya, ENP kini memiliki dua fasilitas pengolahan LPG, yakni di Gresik, Jawa Timur, dan Cilamaya, Jawa Barat, dengan total kapasitas pengolahan gas terpasang 140 MMSCFD.

“Kami percaya bahwa kemandiran energi nasional harus dibangun melalui investasi nyata, penguatan industri dalam negeri, dan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha,” ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article