Jakarta, FORTUNE - Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi nasional mencapai Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2027.
“Guna mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027, investasi nasional perlu tumbuh 8 persen hingga 9 persen dengan kebutuhan penanaman modal Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun,” kata Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangannya, dikutip Senin (5/10).
Sementara itu, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen secara tahunan pada Semester I-2026, sementara inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan.
Menurut Haryo, salah satu kunci untuk menopang pertumbuhan investasi tersebut adalah penguatan ekonomi hijau, terutama melalui ketersediaan energi bersih dan pembangunan infrastruktur digital.
“Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Haryo menilai ketersediaan energi bersih dengan harga yang kompetitif serta akselerasi infrastruktur digital diperlukan untuk menciptakan iklim investasi yang berdaya saing sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dari sisi energi, pemerintah memproyeksikan kebutuhan listrik Indonesia mencapai 700-800 terawatt hour (TWh) pada 2030. Kebutuhan tersebut akan meningkat sejalan dengan ekspansi industri dan perkembangan pusat data.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit hingga 100 gigawatt (GW) peak berbasis energi terbarukan.
Untuk mendukung keandalan pasokan listrik, pemerintah membangun jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer-sirkuit.
Infrastruktur tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan industri dan data center yang terus berkembang.
Sementara itu, pemerataan akses listrik dilakukan melalui program Listrik Desa. Program tersebut telah menjangkau 1.505 lokasi pada 2025 dan ditargetkan mencapai 4.390 lokasi pada 2026.
Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi mendekati atau berada di atas 99 persen, dengan indeks ketahanan energi meningkat menjadi 7,13. Selain energi, pemerintah melihat potensi investasi dari pengembangan sumber daya mineral strategis seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara.
Haryo mengatakan hilirisasi yang ditopang energi bersih dapat meningkatkan nilai tambah komoditas mineral, termasuk melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Ekosistem kendaraan listrik tersebut disebut berpotensi memberikan nilai tambah hingga 67 kali lipat, dengan permintaan global yang diproyeksikan mencapai US$5,91 triliun pada 2045.
Indonesia juga memiliki potensi bahan baku panel surya, termasuk pasir silika, yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi bersih global.
Pemerintah menyebut peluang tersebut telah menarik minat kemitraan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada untuk pengembangan teknologi transisi energi serta diversifikasi rantai pasok mineral kritis.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah mendorong penggunaan sejumlah instrumen pembiayaan hijau, seperti green bonds, blended finance, Just Energy Transition Partnership (JETP), dan Asia Zero Emission Community (AZEC).
Upaya tersebut juga sejalan dengan penyiapan sumber daya manusia melalui perluasan Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi dan program vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri hijau.
