Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenaikan Harga Energi Global dan El Nino Ancam Ketahanan Pangan Indonesia 2027
Kondisi sawah di Jatiluwih Penebel saat musim kemarau tahun 2026 ini (Dok.IDNTimes/Istimewa)
  • Harga energi global diproyeksikan naik 25 persen pada 2026 dan pupuk 31 persen, meningkatkan biaya produksi serta distribusi pangan bagi petani Indonesia.
  • El Niño sangat kuat diperkirakan menunda musim hujan di 61,08 persen daratan Indonesia, mengganggu jadwal tanam dan berisiko menurunkan produksi beras hingga 10 persen pada 2027.
  • Pemerintah didorong mengintegrasikan data untuk peringatan dini, memperbaiki irigasi dan distribusi pangan, memperkuat cadangan, serta mendiversifikasi komoditas pangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Kenaikan harga energi global dan ancaman fenomena cuaca, El Niño, berpotensi menekan ketahanan pangan Indonesia melalui lonjakan biaya produksi pertanian, distribusi, hingga risiko penurunan produksi beras nasional hingga 10 persen pada 2027. Tekanan ganda ini dipicu oleh transmisi lonjakan harga minyak, gas, dan pupuk internasional di tengah proyeksi keterlambatan musim tanam di mayoritas wilayah Indonesia.

Dosen Praktisi Teknik Kimia Universitas Indonesia (UI), Ardian Nengkoda, mengungkapkan konflik geopolitik, termasuk di Timur Tengah, terus menambah tekanan terhadap sistem pangan global akibat gangguan pasokan minyak dan gas. Harga energi rata-rata global diproyeksikan meningkat 25 persen sepanjang 2026 dibandingkan 2025, sementara harga pupuk diperkirakan melonjak 31 persen.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada sektor pertanian mengingat pengoperasian mesin dan rantai distribusi pangan membutuhkan bahan bakar, sedangkan produksi pupuk berbasis nitrogen sangat bergantung pada pasokan gas alam.

“Krisis energi berubah menjadi krisis biaya produksi pangan,” kata Ardian dalam keterangannya kepada Fortune Indonesia, Senin (12/10).

Menurut Ardian, lonjakan biaya input berisiko mendorong petani mengurangi dosis penggunaan pupuk atau menunda masa penanaman. Dampak penurunan produktivitas tersebut diperkirakan baru terlihat beberapa bulan kemudian saat memasuki masa panen.

Tekanan pada tingkat global tecermin pada Indeks Harga Pangan Dunia yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Indeks tersebut menyentuh level 136,0 poin pada September 2026, naik 1,5 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan tumbuh 5,8 persen secara tahunan (YoY).

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,28 persen pada September 2026, dengan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau 4,37 persen.

Meskipun FAO memperkirakan produksi padi nasional pada 2025 mencapai 59 juta ton—sekitar 9 persen di atas rata-rata—sistem pangan Indonesia belum sepenuhnya aman dari gejolak global.

Kebutuhan impor gandum Indonesia pada tahun pemasaran 2025/2026 diperkirakan mencapai 11,5 juta ton atau mendekati rekor tertinggi, sehingga industri pangan domestik tetap rentan terhadap fluktuasi harga internasional dan biaya logistik.

Tantangan pasokan makin diperberat oleh faktor cuaca. BMKG per 22 September 2026 menyatakan El Niño dengan intensitas sangat kuat sedang berlangsung. Sebanyak 529 zona musim, yang mencakup 61,08 persen wilayah daratan Indonesia, diprediksi mengalami keterlambatan awal musim hujan dari kondisi normal.

Mundurnya musim hujan berpotensi mengganggu jadwal tanam, menguras ketersediaan air irigasi, serta mendongkrak biaya pemompaan air. Laporan Reuters pada awal Oktober 2026 memperlihatkan risiko penurunan produksi beras Indonesia pada 2027 hingga 10 persen dalam skenario kekeringan akibat El Niño, meski angka ini merupakan proyeksi risiko.

Guna mengantisipasi dampak tersebut, Ardian menilai pemerintah perlu mengintegrasikan data cuaca, produksi pertanian, stok pangan, harga pasar, distribusi pupuk, hingga harga energi ke dalam satu sistem peringatan dini.

Efisiensi penggunaan pupuk, pembenahan irigasi, penyesuaian jadwal tanam, serta penguatan cadangan dan distribusi pangan menjadi fokus penting. Diversifikasi ke komoditas jagung, singkong, sagu, dan ubi juga diperlukan guna mengikis ketergantungan pada satu jenis pangan.

Ardian menekankan pentingnya sinergi kebijakan pada sektor energi, pertanian, perdagangan, dan perlindungan sosial demi menjaga produksi petani serta daya beli masyarakat.

“Indonesia perlu bergerak cepat dari pendekatan reaktif menuju pendekatan antisipatif: membaca risiko lebih awal, memperkuat produksi domestik, dan membangun sistem pangan yang mampu menghadapi ketidakpastian geopolitik maupun iklim,” katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article