Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Luhut Rayu BlackRock Masuk RI: Ini Waktu yang Tepat Berinvestasi
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan, dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
  • Luhut Binsar Pandjaitan mengajak BlackRock meningkatkan investasi di Indonesia, menilai saat ini sebagai momentum tepat karena prospek ekonomi kuat dan transformasi digital berbasis AI terus berkembang.
  • Ia menegaskan optimisme terhadap masa depan Indonesia yang didukung instruksi Presiden Prabowo untuk memanfaatkan AI dalam tata kelola pemerintahan guna memperkuat efisiensi dan daya saing ekonomi nasional.
  • Pemerintah mempercepat integrasi data lintas lembaga berbasis AI untuk transparansi dan pengawasan, serta menjalin kerja sama global termasuk dengan universitas di Cina guna memperdalam pengembangan teknologi AI.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Luhut menggambarkan keyakinan kuat terhadap potensi ekonomi Indonesia yang tengah bertransformasi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan. Upaya pemerintah mengintegrasikan data lintas lembaga dan melibatkan aparat penegak hukum menunjukkan komitmen pada transparansi serta efisiensi. Dengan bonus demografi dan adopsi digital tinggi, langkah ini mencerminkan optimisme realistis terhadap daya saing nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan telah mengajak perusahaan manajer investasi global BlackRock dalam meningkatkan investasinya di Indonesia.

Menurutnya, saat ini merupakan momentum tepat bagi investor asing masuk ke Tanah Air karena perekonomian Indonesia punya prospek kuat dan didukung percepatan transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dia menyampaikan hal tersebut saat menerima perwakilan BlackRock dalam sebuah pertemuan makan siang di kantornya. Dalam pertemuan tersebut, pihak BlackRock disebut melontarkan sejumlah pertanyaan dan keraguan mengenai kondisi Indonesia.

“[BlackRock] sedikit pesimis atau banyak pertanyaan yang aneh-aneh mengenai Indonesia. Saya bilang sama dia, justru this is the right time for you to invest in Indonesia,” kata Luhut pada acara Indonesia Summit 2026 by IDN di The Tribrata, Jakarta, Kamis (18/6).

Ia menegaskan masa depan Indonesia masih sangat menjanjikan, terlebih setelah Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemanfaatan AI sebagai fondasi dalam transformasi tata kelola pemerintahan. Menurut Luhut, langkah tersebut akan meningkatkan efisiensi pelayanan publik sekaligus memperkuat daya saing perekonomian nasional.

“Masa depan Indonesia itu sangat bagus. Apalagi sekarang Presiden sudah memberikan instruksi untuk kita bekerja berbasis AI,” katanya.

Luhut menyatakan ketika ditanya apakah benar-benar yakin terhadap prospek Indonesia, ia menjawab Indonesia memiliki kemampuan untuk bangkit dari berbagai tantangan ekonomi.

“Dia bilang, ‘Jadi Anda optimis dengan Indonesia?’ Ya saya pasti optimislah, Indonesia kan tidak pernah gagal. Bahwa ada dinamika sesuatu, dia pasti rebound,” ujarnya.

Menurut Luhut, kemungkinan terulangnya krisis seperti pada 1997–1998 sangat kecil selama pemerintah mampu menjaga kesejahteraan masyarakat. Salah satu instrumen penting untuk mencapai tujuan tersebut adalah penerapan teknologi pemerintahan (government technology) berbasis AI.

Selain itu, ia menilai bonus demografi dan tingginya tingkat adopsi digital menjadi modal besar bagi Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang nyaris mencapai 300 juta jiwa dan penggunaan telepon seluler yang melampaui 350 juta perangkat, Indonesia memiliki basis data sangat besar untuk mendukung pengembangan layanan digital.

Luhut juga mengungkapkan pemerintah terus mempercepat integrasi data lintas kementerian dan lembaga. Sejak awal Juni lalu, delapan kementerian dan lembaga telah mulai mengharmonisasikan data melalui sistem berbasis AI. Belakangan, data kendaraan dari kepolisian juga mulai diintegrasikan sehingga ekosistem data pemerintah semakin lengkap.

Menurutnya, integrasi tersebut akan memperkuat transparansi dan memudahkan pengawasan. Bahkan, dengan keterlibatan lembaga penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kepolisian, dan kejaksaan, potensi penyimpangan dapat dideteksi lebih dini melalui analisis data.

“Tidak perlu OTT, dari sini saja bisa di-trace siapa yang akan bermain-main. Ini harganya benar atau tidak, pelaksanaannya benar atau tidak, itu sangat bisa,” kata Luhut.

Untuk mendukung agenda tersebut, pemerintah juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pelaku teknologi global, baik di Amerika Serikat maupun Cina. Tim Indonesia bahkan dikirim ke University of Science and Technology di Anhui, Cina, guna mempelajari pengembangan model AI yang dinilai sebagai salah satu yang paling maju saat ini.

Editorial Team

Related Article