Kerugian Ekonomi Akibat Obesitas Diperkirakan Tembus Rp78 Triliun per Tahun

- Penelitian IPB memperkirakan kerugian ekonomi akibat obesitas melampaui Rp78 triliun per tahun, menegaskan obesitas sebagai krisis sistemik yang memicu penyakit komorbid.
- Pada 2024, 20,5 juta peserta JKN didiagnosis hipertensi dan 7,4 juta diabetes; klaim BPJS untuk keduanya mencapai Rp30,5 triliun.
- Obesitas memengaruhi kesehatan reproduksi perempuan; penanganannya kini multidisiplin, dari perubahan gaya hidup dan dukungan psikologis hingga terapi medis atau bedah bariatrik sesuai indikasi.
Jakarta, FORTUNE – Obesitas bukan lagi menyoal kesehatan individu, tapi telah berkembang menjadi krisis sistemik yang mengancam ketahanan ekonomi nasional. Kajian Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkirakan kerugian ekonomi akibat penyakit metabolik kronis ini bisa menembus lebih dari Rp78 triliun per tahun seiring melonjaknya risiko komorbiditas seperti diabetes dan hipertensi.
Tingginya beban finansial tersebut tecermin pada data BPJS Kesehatan sepanjang 2024. Sebanyak 20,5 juta peserta JKN terdiagnosis hipertensi dan 7,4 juta peserta terdiagnosis diabetes melitus, dengan total klaim pelayanan kesehatan untuk kedua komorbid tersebut mencapai Rp30,5 triliun.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Cynthia Agnes Susanto, menegaskan dampak komplikasi obesitas sangat luas terhadap produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.
"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup,” kata Cynthia dalam diskusi media bersama Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Kamis (30/7).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2023, satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas. Dari sisi demografi, prevalensi penderita diabetes pada kelompok perempuan tercatat mencapai 36,4 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok laki-laki yang sebesar 24,4 persen.
Cynthia menambahkan, implikasi obesitas pada perempuan secara khusus berdampak serius pada aspek reproduksi.
“Pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi. Mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan,” kata Cynthia.
Ia menerangkan salah satu wujud keterkaitan ini adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS)—istilah baru untuk Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)—yang menegaskan bahwa gangguan tersebut merupakan kompleksitas masalah endokrin dan metabolik, bukan sekadar gangguan ovarium.
Menjawab tantangan tersebut, penanganan obesitas modern kini bergeser menuju pendekatan multidisiplin yang komprehensif, mulai dari modifikasi gaya hidup, pendampingan psikologis, hingga tindakan medis berupa bedah bariatrik maupun terapi farmakologis.
Dari sisi inovasi medis, pasar kesehatan kini menghadirkan terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja mengatur regulasi rasa lapar dan kenyang pada otak.
Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, Riyanny Meisha Tarliman, menyampaikan terapi medis hadir untuk melengkapi perubahan gaya hidup agar pencapaian berat badan ideal berkesinambungan.
“Lebih dari sekadar menurunkan angka di timbangan, terapi ini juga mendukung quality weight loss, yaitu penurunan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot, berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen,” kata Riyanny.


















