Harga MCU RI Lebih Mahal, Kemenkes Soroti Daya Saing Kesehatan

- Kemenkes menilai biaya medical check-up di Indonesia masih lebih mahal dibanding Malaysia, meski kualitas skrining per penyakit dinilai lebih baik.
- Biaya perjalanan dan konektivitas turut memengaruhi pilihan pasien; tiket Medan-Jakarta disebut lebih mahal daripada Medan-Penang, sementara hampir satu juta WNI berobat ke Malaysia pada 2025.
- Kemenkes mendorong wisata medis domestik melalui layanan berkualitas, aman, transparan, dan kompetitif, dengan perbandingan tarif harus mempertimbangkan cakupan paket serta spesifikasi pemeriksaan.
Jakarta, FORTUNE – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti harga medical check-up (MCU) di Indonesia yang dinilai masih lebih tinggi dibandingkan Malaysia. Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah dalam meningkatkan daya saing layanan kesehatan nasional.
Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Yanti Herman, mengatakan, berdasarkan laporan expo tahunan yang diterima kementerian, biaya MCU di Indonesia tercatat lebih mahal dibandingkan negara tetangga. Meski demikian, ia menyebut kualitas skrining berdasarkan jenis penyakit masih menunjukkan hasil yang lebih baik.
"Medical check-up kita kalah harganya dengan negara tetangga, tapi dari medical check up skrining itu dilakukan. Ternyata per penyakit kita masih lebih baik, tapi MCU kita jauh lebih mahal dari negara tetangga," kata Yanti ditemui usai konferensi pers Primaya Fair 2026 di Tangerang, Rabu (23/9).
Menurut Yanti, persoalan biaya layanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tarif pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Infrastruktur dan konektivitas antarwilayah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pilihan masyarakat ketika mencari layanan kesehatan.
Ia mencontohkan perbedaan ongkos perjalanan masyarakat dari Sumatra Utara menuju Malaysia dan Jakarta. Menurutnya, akses penerbangan turut menjadi bagian dari ekosistem layanan kesehatan yang perlu dibenahi.
"Sekarang orang dari Medan ke Penang, dibandingkan Medan ke Jakarta pesawatnya mahalan Medan ke Jakarta ya," ujarnya.
Fenomena tersebut juga tercermin dari tingginya arus pasien Indonesia ke Malaysia. Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) mencatat hampir 1 juta warga Indonesia berobat ke Malaysia sepanjang 2025. Pemeriksaan kesehatan, pengobatan kanker, penyakit jantung, dan bedah ortopedi termasuk layanan yang banyak dicari.
MHTC juga melaporkan pendapatan dari perjalanan layanan kesehatan pasien Indonesia ke Malaysia mencapai RM2,2 miliar pada 2025, naik 24 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan besarnya pasar kesehatan lintas negara yang selama ini mengalir dari Indonesia ke Malaysia.
Namun, Yanti mengingatkan bahwa perbandingan harga layanan kesehatan tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat nominal akhir. Paket pemeriksaan dan fasilitas yang diterima pasien perlu dibandingkan secara setara.
Terkait MCU, perbedaan tarif, menurutnya, antara lain dipengaruhi fasilitas yang termasuk dalam paket pemeriksaan yang ditawarkan masing-masing rumah sakit.
Hal serupa berlaku untuk pemeriksaan penunjang seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI). Harga pemeriksaan tidak semata-mata ditentukan oleh nama layanan, tetapi juga spesifikasi pemeriksaan, termasuk jumlah slice dan ketebalan gambar yang dihasilkan.
"Kadang-kadang kan pasien ngomong, di sana MRI-nya (harga) segini. Terus benar enggak sekian slice, nah itu yang kita perbaiki coba," ucapnya.
Dengan demikian, perbandingan tarif perlu memperhatikan cakupan pemeriksaan dan spesifikasi layanan yang diterima pasien agar tidak menghasilkan perbandingan yang timpang.
"Yang kedua maksudnya pemeriksaan MRI, misalnya dapat berapa slice kamu di sini itu yang beda, yang sedikit dan yang banyak harganya beda," katanya, menambahkan.
Di sisi lain, Kemenkes sendiri tengah mendorong pengembangan layanan medical tourism di dalam negeri. Dalam laman resmi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, pemerintah menyebut pengembangan wisata medis Indonesia diarahkan pada layanan yang berkualitas, aman, transparan, berorientasi pada pasien, serta memiliki biaya yang kompetitif.
Tantangannya bukan hanya meningkatkan mutu fasilitas dan layanan medis, tetapi juga membuat biaya serta akses menuju layanan kesehatan di dalam negeri lebih kompetitif. Hal tersebut menjadi penting ketika pasien memiliki alternatif untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di negara lain.




















