Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Celios Soroti Konsumsi Rumah Tangga Malah Lemah

2 min read
Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Celios Soroti Konsumsi Rumah Tangga Malah Lemah
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Magnific.com)
  • Ekonomi nasional triwulan III 2026 tumbuh 5,47 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan II yang mencapai 5,29 persen.

  • Konsumsi rumah tangga melambat, sementara industri pengolahan, khususnya makanan minuman, menjadi salah satu pendorong pertumbuhan.

  • Celios menyoroti perlambatan konsumsi rumah tangga, PMTB, pengeluaran pemerintah, serta kontraksi sektor pertanian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah mengabarkan ekonomi nasional per triwulan III 2026 mengalami pertumbuhan 5,47 persen, lebih tinggi ketimbang laju pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2026 yang tumbuh 5,29 persen.

Di tengah tingginya pertumbuhan pada kuartal ketiga, terjadi anomali pada laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Secara kuartalan, segmen ini justru mengalami perlambatan.

BPS mencatat konsumsi rumah tangga triwulan II 2026 sebesar 5,06 persen, sedangkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga triwulan III 2026 hanya 5,04 persen.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai konsumsi rumah tangga berkontribusi hingga 51,97 persen produk domestic bruto (PDB), sehingga perlambatannya berperan berperan besar terhadap ekonomi nasional.

"Dengan kontribusi lebih dari 50 persen, perlambatan konsumsi RT seharusnya menyeret pertumbuhan ekonomi secara total," kata Nailul dalam keterangannya, Jumat (6/11).

Pada sisi sektoral, industri pengolahan tumbuh signifikan sebesar 5,87 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Salah satu yang meningkat signifikan adalah industri makanan minuman yang naik sebesar 7,09 persen, dengan kontribusi mencapai 7,23 persen.

Namun Celios menyoroti kejanggalan yang terjadi adalah konsumsi rumah tangga sub pengeluaran makanan minuman selain restoran yang mengalami perlambatan. Perlambatan konsumsi rumah tangga ini menurutnya sejalan dengan penurunan Indeks penjualan ritel untuk makanan, minuman, dan tembakau.

Sementara pada sektor pertanian yakni pangan, holtikultura, dan perkebunan tercatat kontraksi di triwulan III 2026. Kondisi ini berbeda dengan triwulan sebelumnya, ataupun tahun lalu. Menurut Nailul sumbangan sektor ini kepada PDB juga tidak kecil, dengan hampir menyentuh 10 persen.

"Artinya, jika ketiga sektor tersebut mengalami kontraksi, sangat perlu dipertanyakan angka pertumbuhan ekonomi secara nasional lebih tinggi," ucap Nailul.

Selain berdasarkan sektoral, Celios juga menyoroti pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang melambat dari 6,87 persen pada triwulan II 2026 menjadi 6,06 persen pada triwulan III 2026. Sumber pertumbuhannya pun juga melambat seperti PMTB Kendaraan turun secara kuartalan dari 26,03 persen menjadi 12,96 persen.

konsumsi pemerintah juga tercatat melambat secara kuartalan dari 15,97 persen menjadi 8,95 persen. Padahal sektor ini diklaim sebagai mesin pertumbuhan ekonomi di triwulan I dan II 2026 karena tumbuh dua digit yakni 21,81 persen di triwulan I dan 15,97 persen di triwulan II.

"Sayangnya, di triwulan ketiga memang sudah kehabisan bensin (APBN) yang membuat perlambatan pengeluaran pemerintah," ujar Nailil.

Berdasarkan data-data tersebut, pengeluaran pemerintah dan PMTB berkontribusi sebesar 37 persen terhadap PDB. Artinya, lanjut Nailul, sekitar 87 persen lebih komponen PDB mengalami perlambatan, tapi pertumbuhan ekonomi justru lebih tinggi.

    Related Articles

    See More