Prasasti Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Sulit Tembus 5,4%, Ini 3 Tekanannya

Prasasti memproyeksikan tiga tekanan yang berbarengan pada kuartal IV 2026: harga minyak tinggi, El Nino, serta kebakaran hutan dan lahan.
Tekanan tersebut berisiko menekan inflasi, aktivitas ekonomi, kelompok berpendapatan rendah, dan target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen.
Ruang stimulus fiskal dan moneter terbatas, sehingga kepastian regulasi dan kebijakan non-fiskal dinilai menjadi sumber dorongan pertumbuhan.
Jakarta, FORTUNE - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memproyeksikan bahwa terdapat sejumlah tekanan dalam pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2026 yang memuncak secara bersamaan.
Pertama, harga minyak yang tetap tinggi merambat ke biaya produksi dan transportasi, menekan margin dunia usaha, dan memperbesar tagihan impor. Konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi dunia mendorong harga minyak naik dan menekan Indonesia sebagai pengimpor energi. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) rata-rata mencapai US$92 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70.
Research Director Prasasti Adhi N. Saputro menilai dampaknya akan mulai terasa pada Oktober, di mana kelompok transportasi terutama bensin, menyumbang 0,59 poin persentase inflasi tahunan.
Kedua, El Nino menekan produksi padi, yang turun 18,3 persen pada September dan diproyeksikan turun 16,3 persen pada Oktober hingga Desember 2025. Hal ini berpotensi mendorong harga bahan pokok di tengah inflasi yang sudah bertahan di atas 3 persen.
Prasasti menilai, kelompok berpendapatan rendah menjadi kelompok paling rentan karena pangan menyumbang porsi terbesar pengeluaran dana tabungan yang semakin menipis.
Tekanan yang ketiga adalah kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung hingga Oktober di Kalimantan dan Sumatra mengganggu aktivitas ekonomi, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Research Director Prasasti Adhi N. Saputro mencernati bahwa tekanan tersebut sulit untuk diredam karena terbatasnya ruang fiskal dan moneter.
Ruang untuk stimulus tambahan terbatas karena beban subsidi energi berisiko naik dan agenda prioritas nasional turut menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Bank Indonesia harus menjaga rupiah sehingga belum dapat menurunkan suku bunga. Di sisi fiskal, harga minyak yang kembali melonjak berisiko menaikkan beban subsidi dan kompensasi energi pada kuartal IV, sementara outlook defisit sudah mendekati batas 3 persen PDB. Dengan demikian, memaksakan pertumbuhan lewat belanja, ekspansi kredit, atau kegiatan kuasi-fiskal berisiko menggerus bantalan fiskal dan stabilitas eksternal,” ujar Adhi dalam keterangannya, Rabu (4/11).
Dengan adanya ketiga tekanan tersebut, pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi Prasasti sepanjang tahun 2026 sebesar 5,4 persen dinilai sulit untuk tercapai. “Untuk mencapainya, ekonomi perlu tumbuh sekitar 5,5 persen yoy pada kuartal IV 2026, di atas basis yang tinggi,” kata Adhi.
Sementara itu, pada kuartal III 2026, Adhi memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III sekitar 5,2 persen yoy. Proyeksi ini disampaikan menjelang rilis data PDB oleh Badan Pusat Statistik pada minggu ini.
Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026, dan tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026.
Dengan demikian, Prasasti menilai pertumbuhan lebih tinggi perlu dibangun di atas fundamental yang lebih kuat. Senior Economist Prasasti Piter Abdullah menilai bahwa pemerintah dapat memprioritaskan kebijakan non-fiskal, seperti relaksasi hambatan dagang non-tarif dan kepastian regulasi.
Lebih lanjut, Piter menilai keterbatasan ruang kebijakan menggeser sumber dorongan pertumbuhan. “Sisa anggaran terlihat besar, tetapi ruang geraknya tersandera beban subsidi energi dan bunga utang. Ketika ruang fiskal dan moneter sama-sama terbatas, dorongan pertumbuhan datang dari kepastian aturan main, bukan dari besarnya belanja," kata Piter.



















