Comscore Tracker
NEWS

Pemerintah Waspadai Ketidakpastian Global Dalam Pemulihan Ekonomi

Sentimen dari berbagai negara menyebabkan ketidakpastian.

Pemerintah Waspadai Ketidakpastian Global Dalam Pemulihan Ekonomisource_name

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah Indonesia kembali mengakui bahwa faktor ketidakpastian global akan berdampak pada pemulihan ekonomi dalam negeri. Ketidakpastian tersebut terlihat dari dampak aktivitas maupun kebijakan suatu negara ke negara lainnya.

“Hati-hati, sekarang ini banyak sekali negara yang ada perubahan kemudian berefek kepada negara lain juga terkena imbasnya. Sekali lagi, ketidakpastian dunia sekarang ini sangat tinggi sekali,” kata Presiden Joko Widodo dalam acara Pengarahan Presiden kepada Peserta PPSA XXIII Lembaga Ketahanan Nasional, Rabu (13/10).

Namun, Jokowi tidak menyatakan lebih lanjut ihwal ketidakpastian dimaksud, serta datang dari negara mana. Dia hanya menyebutkan berbagai faktor yang menyebabkan dunia berubah begitu cepat seperti revolusi industri 4.0, disrupsi teknologi, dan pandemi Covid-19.

“Pandemi ini yang mempercepat gelombang perubahan di dunia,” katanya.

Krisis kesehatan global yang bersumber dari virus SARS-Cov-2 memang menjadi faktor utama ketidakpastian perekonomian dunia saat ini. Banyak negara, termasuk Indonesia, masih terus berupaya meredam penyebaran virus tersebut serta memulihkan perekonomian.

Di tengah upaya pemulihan ekonomi global, muncul fenomena krisis energi yang terjadi di sejumlah negara seperti Inggris dan Cina. Krisis ini pun akhirnya berdampak pada kenaikan sejumlah harga komoditas dunia seperti batu bara, minyak, dan gas alam.

Faktor ketidakpastian ini juga dikhawatirkan akan datang dari Amerika Serikat, negara dengan perekonomian terbesar di dunia. AS dikabarkan bakal melaksanakan kebijakan penyesuaian likuiditas atau tapering off. Kebijakan ini disebut-sebut akan berdampak pada pasar keuangan dunia termasuk Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya mengatakan perekonomian global dan domestik mulai bergerak, namun masih terus dibayangi berbagai risiko dan ketidakpastian.

Dia mengatakan,PMI manufaktur tumbuh solid mencapai 54,1, terutama didukung ekspansi dari AS dan Uni Eropa. Menurutnya, meski terjadi lonjakan kasus Covid-19, realisasi program vaksinasi berhasil memberikan optimisme pembukaan ekonomi.

Namun, lanjut Sri Mulyani, faktor ketidakpastian tetap ada terutama dari kondisi penyebaran varian baru Covid-19 Delta di 185 negara di tengah upaya vaksinasi yang belum merata. Dia menyebutkan, beberapa risiko lain yang harus diawasi adalah  kenaikan suku bunga di tengah peningkatan inflasi, rencana tapering di negara maju yang terus mengemuka, dan risiko stabilitas sektor keuangan di Cina akibat krisis properti Evergrande.

IMF: Pemulihan kehilangan momentum

Sementara itu, lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) dalam outlook terbarunya juga menyebut pemulihan perekonomian global kini telah “kehilangan momentum”. Menurut IMF, perluasan wabah menyebabkan ekonomi dunia lumpuh untuk sementara waktu.

“Gangguan pasokan telah menyebabkan pertumbuhan yang lebih rendah di negara-negara terkaya sementara dinamika pandemi yang memburuk memperlambat negara-negara termiskin,” demikian pernyataan IMF seperti dikutip dari Market Watch.

Namun, menurut IMF, kelemahan pemulihan ini masih bisa diimbangi oleh prospek jangka pendek kenaikan harga komoditas. Hal ini terutama berlaku untuk negara-negara berkembang.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya 5,9 persen, atau turun 0,1 poin dari dari perkiraan IMF sebelumnya per Juli. Sedangkan, perekonomian pada 2022 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,9 persen pada 2022. 

IMF juga memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya menjadi 3,2 persen. Perkiraan IMF ini bahkan lebih rendah dari proyeksi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 3,7 persen dan Bank Pembangunan Asia (ADB) pada 3,5 persen.

Related Articles