Jakarta, FORTUNE - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan pemulihan sarana perdagangan pascabencana di wilayah Sumatra telah melewati progres menjanjikan. Hingga pertengahan Februari 2026, tidak kurang dari 91 persen pasar rakyat di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh telah kembali beroperasi. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa aktivitas perekonomian lokal di kawasan tersebut telah menggeliat lebih dari dua bulan setelah peristiwa.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan normalisasi fasilitas perdagangan merupakan fondasi utama pemulihan daya beli masyarakat.
“Pemulihan sarana perdagangan, khususnya pasar rakyat, terus menunjukkan hasil nyata. Pasar rakyat adalah kunci pemulihan ekonomi lokal. Kami memastikan reaktivasi pasar berjalan cepat, terukur, dan menyeluruh,” ujar Budi dalam keterangannya, Kamis (19/2).
Berdasarkan data pemerintah, bencana ini berdampak pada 194 pasar rakyat yang menaungi 18.065 pedagang. Kerusakan infrastruktur bervariasi, meliputi 95 pasar rusak ringan, 41 rusak sedang, dan 58 rusak berat.
Per 18 Februari 2026, ada 178 pasar yang telah berhasil diaktifkan kembali. Fokus pemulihan terkonsentrasi di wilayah Aceh karena jumlah pasar yang dikerjakan merupakan yang terbanyak.
Pemulihan cepat tidak hanya terjadi pada sektor tradisional, tapi juga pada segmen ritel modern. Data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menunjukkan dari 383 gerai toko swalayan terdampak, 96 persen atau 368 gerai telah beroperasi normal.
Pemerintah memproyeksikan seluruh gerai swalayan tersebut dapat berfungsi penuh pada akhir Februari 2026.
Budi menyatakan rangkaian langkah taktis yang ditempuh Kemendag bersifat lintas-sektoral. Upaya tersebut melibatkan pendataan pasar melalui sistem Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (JITUPASNA) bersama BNPB, aksi pembersihan pasar massal, hingga distribusi 100 unit tenda darurat.
Selain itu, kolaborasi dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan terus diperkuat guna mengamankan anggaran revitalisasi pasar.
Di sisi stabilitas harga, kondisi di Sumatra Utara relatif terkendali dengan rata-rata harga komoditas berada di bawah level nasional. Produk minyak goreng MINYAKITA pun dipastikan tetap terjual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Namun, pemerintah tetap memberikan perhatian khusus pada Sumatra Barat. Meski harga barang kebutuhan pokok (bapok) saat ini stabil, terdapat proyeksi kenaikan harga pada komoditas cabai, daging ayam, dan daging sapi seiring dengan meningkatnya permintaan menjelang Ramadan.
“Untuk menjaga stabilitas distribusi dan ketersediaan bapok, Kemendag memperkuat koordinasi dengan ID FOOD dan Perum Bulog. Langkah ini memastikan pasokan bapok di wilayah terdampak tetap terjaga,” katanya.
