Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terendah Dalam 4 Tahun, Anggaran Stunting APBD 2026 Rp20,2 Triliun
ilustrasi stunting (unsplash.com/mark chaves)
  • Alokasi anggaran intervensi gizi pada APBD 2026 tercatat Rp20,2 triliun, menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.

  • Kemenkeu mencatat adanya fluktuasi alokasi dan selisih antara anggaran dengan realisasi pada 2023 hingga 2026.

  • Pemerintah pusat menyoroti efektivitas belanja, kapasitas pemerintah daerah, serta pelaksanaan program pencegahan stunting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa tantangan terbesar anggaran intervensi gizi?
Vote Now
2023

Alokasi anggaran stunting tercatat Rp22,2 triliun dengan realisasi Rp21,5 triliun.

2024

Anggaran tercatat Rp28,4 triliun dan realisasinya Rp22,1 triliun. Anggaran 2024 menjadi yang tertinggi dalam periode empat tahun.

2025

Alokasi anggaran tercatat Rp26,3 triliun, sedangkan realisasinya Rp22,4 triliun.

2026

Anggaran intervensi gizi tercatat Rp20,2 triliun, terendah dalam empat tahun terakhir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa tantangan terbesar anggaran intervensi gizi?
Vote Now
  • What?
    Alokasi anggaran intervensi gizi pada APBD 2026 turun menjadi Rp20,2 triliun, terendah dalam empat tahun terakhir.
  • Who?
    Kementerian Keuangan mencatat dan mengevaluasi anggaran intervensi gizi, sementara pemerintah daerah melaksanakan program tersebut.
  • Where?
    Anggaran tersebut berada dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang digunakan pemerintah daerah.
  • When?
    Pada 2026, setelah alokasi anggaran tercatat Rp22,2 triliun pada 2023, Rp28,4 triliun pada 2024, dan Rp26,3 triliun pada 2025.
  • Why?
    Fluktuasi mengindikasikan pergeseran prioritas, penyesuaian fiskal, serta kemampuan anggaran daerah dalam belanja tematik stunting.
  • How?
    Program didanai melalui alokasi intervensi gizi pada APBD, tetapi pelaksanaannya menghadapi tantangan kesiapan teknis, kelembagaan, dan perencanaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa tantangan terbesar anggaran intervensi gizi?
Vote Now

Kementerian Keuangan melihat uang untuk membantu gizi dan mencegah stunting turun pada 2026. Uangnya Rp20,2 triliun. Uang yang dipakai juga sering lebih kecil dari rencana. Pemerintah daerah perlu merencanakan dan menjalankan program dengan baik supaya layanan gizi sampai kepada orang yang membutuhkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa tantangan terbesar anggaran intervensi gizi?
Vote Now

Pencatatan alokasi dan realisasi anggaran dari 2023 hingga 2026 memberikan gambaran mengenai pelaksanaan intervensi gizi. Evaluasi Kemenkeu juga menyoroti kebutuhan memperkuat perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring, sehingga belanja dapat lebih tepat sasaran dan mendukung cakupan layanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa tantangan terbesar anggaran intervensi gizi?
Vote Now

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan penurunan alokasi anggaran intervensi gizi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)yang dikucurkan untuk mendukung pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Pada 2026, anggaran intervensi gizi tercatat sebesar Rp20,2 triliun. Angka ini lebih merupakan angka terendah dalam 4 tahun belakangan. Sebagai perbandingan, alokasi anggaran tahun 2025 sebesar Rp26,3 triliun, dan realisasi tercatat Rp22,4 triliun. Sementara itu, anggaran pada tahun 2024 tercatat Rp28,4 triliun dan realisasi anggaran sebesar Rp22,1 triliun. Anggaran tahun 2024 menjadi yang tertinggi dalam periode 4 tahun.

Alokasi anggaran stunting tahun 2023 tercatat sebesar Rp22,2 triliun dan realisasinya tercatat Rp21,5 triliun.

“Alokasi anggaran intervensi gizi pada APBD Tahun Anggaran 2023 sampai dengan 2026 mengalami fluktuasi,” tulis Kemenkeu dalam laporan Hasil Pendanaan, Pelacakan, dan Evaluasi Anggaran Intervensi Gizi, dikutip Senin (28/9).

Kemenkeu menilai adanya fluktuasi mengindikasikan adanya pergeseran prioritas atau penyesuaian fiskal serta kemampuan anggaran daerah khususnya pada belanja tematik stunting.

“Selisih antara alokasi dan realisasi anggaran intervensi gizi yang tetap lebar dari tahun 2023 ke 2026, mengindikasikan kondisi/kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan kegiatan serta menandakan adanya tantangan dalam pelaksanaan program, seperti kesiapan teknis dan kelembagaan, efisiensi perencanaan, dampak kebijakan pergeseran anggaran,” tulis laporan tersebut.

Pemerintah pusat menilai bahwa penurunan alokasi anggaran intervensi gizi di tahun 2026 perlu dicermati, terutama jika tidak diiringi dengan peningkatan efektivitas dan efisiensi belanja. Realisasi anggaran intervensi gizi yang tidak optimal dapat berdampak pada tidak tercapainya target cakupan layanan yang diperlukan dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Beberapa hal tersebut mengindikasikan bahwa komitmen anggaran yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat realisasi, dan efektivitas pelaksanaan program menjadi kunci dalam menurunkan prevalensi stunting.

Pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat kapasitas perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring agar belanja intervensi gizi benar-benar berdampak pada peningkatan cakupan dan ketepatan sasaran layanan serta penurunan prevalensi stunting.

Sampaikan pandanganmu

Apa tantangan terbesar anggaran intervensi gizi?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article