Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap alasan pemerintah kembali membuka peluang pemberian insentif mobil listrik. Menurutnya, keputusan tersebut dipengaruhi proyeksi harga minyak dunia yang diperkirakan tetap tinggi akibat tensi geopolitik global yang berkepanjangan.
Purbaya mengatakan awalnya pemerintah tidak terlalu mempertimbangkan pemberian insentif kendaraan listrik. Namun, setelah mempelajari perkembangan konflik global, terutama dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran, pemerintah melihat tekanan terhadap harga energi masih akan berlangsung lama.
“Karena kita lihat harga minyak dunia kan enggak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajari cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain term yang diberikan untuk Iran. Itu sepertinya desainnya untuk negara yang kalah perang. Dan pasti akan ditolak oleh Iran. Itungan saya nih ya. Jadi kelihatannya perangnya masih panjang,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5).
Oleh sebab itu, pemerintah mulai melihat kendaraan listrik sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) impor. “Kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan,” katanya.
Selain menekan impor BBM, pemerintah juga ingin memanfaatkan kapasitas listrik nasional yang belum sepenuhnya terpakai. Purbaya menyebut saat ini masih ada pasokan listrik PLN yang tetap dibayar meski belum digunakan melalui skema take or pay.
“Itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70 persen, masih ada 30 persen listrik yang kita bayar tapi enggak dipakai,” ujarnya.
Purbaya mengatakan, pemanfaatan listrik untuk kendaraan listrik dapat membantu menekan beban subsidi energi, baik subsidi BBM maupun listrik.
Purbaya memperkirakan tensi geopolitik global paling cepat mereda pada September 2026. Namun, ia mengingatkan konflik juga berpotensi berlangsung lebih panjang sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif dari sisi energi dan konsumsi domestik.
“Paling bagus September itu berakhir, karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat. Tapi bisa aja jalan berlanjut terus, jadi kita akan melihat terus,” ujar Purbaya.
Sebagai informasi, akan terdapat insentif yang diberikan untuk 200 ribu mobil dan motor listrik tahun ini. Insentif tersebut akan mulai diberikan pada Juni 2026. Untuk motor listrik, besaran subsidi yang diberikan sebesar Rp5 juta, sementara insentif mobil listrik belum ditentukan, dan insentif tersebut berupa PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah).
