Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Seorang tentara sedang berjalan di jalur kayu sambil membawa perlengkapan perang
Seorang tentara sedang berjalan di jalur kayu sambil membawa perlengkapan perang (Unsplash/Stijn Swinnen)

Intinya sih...

  • Menurutnya, arah perkembangan geopolitik global kian mengkhawatirkan.

  • Dia meyakini terdapat sejumlah indikator klasik menuju perang besar.

  • PBB diharapkan dapat segera mengambil peran aktif dan menginisiasi sidang darurat Majelis Umum.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengeluarkan peringatan serius mengenai eskalasi geopolitik global yang kian tajam pada awal 2026. SBY menilai potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga kini bukan sekadar wacana, melainkan ancaman nyata yang didukung oleh indikator-indikator militer dan ekonomi yang mengkhawatirkan.

Dalam pandangannya, situasi dunia saat ini memiliki kemiripan pola dengan kondisi menjelang Perang Dunia I dan II. Hal ini terlihat dari munculnya blok-blok aliansi yang saling berhadap-hadapan, hingga mobilisasi sumber daya untuk konflik terbuka.

“Terus terang saya khawatir. Cemas kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi, meskipun saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini masih bisa dicegah,” demikian SBY melalui akun media sosial X, @SBYudhoyono, dikutip Senin (19/1).

Menurutnya, terdapat sejumlah indikator klasik menuju perang besar. Tanda-tanda tersebut meliputi hadirnya pemimpin kuat yang haus konflik, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, serta penyiapan mesin perang dan struktur ekonomi pendukungnya.

Perkiraan tersebut muncul di tengah dua guncangan besar stabilitas global yang terjadi baru-baru ini. Pertama, penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat (AS) pada Januari ini.

Kedua, memanasnya tensi di kawasan Greenland.

Ketertarikan Presiden AS, Donald Trump, terhadap posisi strategis Arktik dan potensi mineral tanah jarang (rare earth) di wilayah tersebut telah memicu ketegangan diplomatik dengan Denmark. Sejumlah negara Eropa pun menghidupkan posisi siaga.

SBY mengingatkan, sejarah pernah merekam kegagalan dunia dalam mencegah dua perang besar sebelumnya karena kurangnya kepedulian atau ketidakberdayaan komunitas global.

“Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya,” katanya.

Melihat ruang waktu pencegahan yang kian menyempit, SBY mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil peran aktif. Ia mengusulkan inisiasi sidang darurat Majelis Umum (Emergency UN General Assembly) yang menghadirkan para pemimpin dunia untuk merumuskan langkah konkret.

“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan doing nothing,” ujar SBY.

Ia pun memperingatkan dampak buruk jika perang terbuka pecah, terutama jika melibatkan senjata nuklir. Korban jiwa diperkirakan bisa menembus 5 miliar manusia, yang berarti kehancuran peradaban modern.

SBY pun mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein, menekankan bahwa kehancuran terjadi ketika orang baik memilih diam.

“Mungkin seruan ini bagai berseru di padang pasir. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way,” katanya.

Editorial Team