Comscore Tracker
NEWS

Aksi Setop Perubahan Iklim Meningkat, Cukupkah dengan Demonstrasi?

Apakah cukup hanya mengandalkan demonstrasi?

Aksi Setop Perubahan Iklim Meningkat, Cukupkah dengan Demonstrasi?Ilustrasi aksi demonstrasi. (Pixabay/Dominic Wunderlich)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Gerakan lingkungan global, Extinction Rebellion (ER), memperingatkan para penguasa akan meningkatnya geliat demonstrasi sipil setelah musim dingin. Tuntutannya satu: membuat deretan bisnis menjadi lebih ramah lingkungan.

ER, sama seperti mayoritas gerakan lingkungan lain, menilai KTT COP26 sebagai sebuah kegagalan. Menurut organisasi itu, janji konkret untuk menyetop pemanasan global tidak tercermin dalam konferensi tersebut.

Di sisi lain, ER meyakini, protes massalnya pada 2019 telah berperan penting mendorong Parlemen Inggris menyatakan kedaruratan iklim sehingga membuat komitmen niremisi yang inovatif.

“Orang-orang frustrasi karena pemerintah sangat lemah (dalam mengambil tindakan terkait perubahan iklim),” kata profesor filsafat di University of East anglia, Rupert Read, dikutip dari Fortune.com. “Hingga batas tertentu, mereka akan mengambil tindakan sendiri dan menyerah pada proses politik.”

Geliat Aksi Massa tentang Perubahan Iklim Selama Pandemi

Selama pandemi, para massa memilih menggelar aksi dengan skala kecil. Contohnya: merusak kantor JPMorgan Chase, Barclays, dan HSBC. Bahkan, pada periode Black Friday, mereka memblokade 15 15 fulfillment centers milik Amazon.

Kini, ketika pembatasan sosial mulai berkurang, XR mengatakan aksi akan kembali dilakukan secara massal. “Kami akan kembali turun ke jalan pada April 2022,” ujar XR, dilansir dari Fortune.com.

Pemerintah Bersiap Sambut Protes dengan Regulasi

Di tengah persiapan XR dan gerakan lingkungan lain, Parlemen Inggris sibuk memberi sentuhan akhir pada Rancangan Undang-Undang (RUU) Kepolisian baru. Mereka telah mengantongi izin dari Menteri Dalam negeri.

Aturan itu akan membatasi demonstrasi yang menyebabkan kegelisahan, kewaspadaan, dan kesulitan di tingkat serius bagi siapapun di sekitarnya. RUU itu juga berpotensi mengkriminalisasi orang yang dengan sengaja menghalangi jalan raya, serta orang-orang yang menempelkan diri ke objek, permukaan tanah, ataupun orang lain.

Pemerintah mengambil langkah preventif itu setelah tindakan Insulate Britain—cabang dari ER—melakukan demonstrasi yang memancing amarah mayoritas publik Inggris. Gerakan itu telah memblokir sebagian jalan M25 yang memutari London sehingga mengganggu akses ke Pelabuhan Dover—pelabuhan feri tersibuk Eropa.

Tak Cukup Sekadar Demonstrasi

Beberapa hari setelah COP26, 9 aktivis Insulate Britain dipenjara karena menentang perintah terhadap protes pemblokiran jalan mereka. Sabtu pekan lalu, ratusan anggota lain melanggar order sebagai bentuk protes.

“Tahun depan, Anda bisa melihat banyak orang yang diasingkan,” ujar Roman Paluch-Machnik, salah satu dari 9 aktivis itu, pada awal November.

Menurutnya, pemberontakan sipil—yang sangat terbuka untuk umum—merupakan bagian penting dari aksi iklim. Rekannya yang bernama Clare Farrel mengatakan, “melanggar hukum demi itu (menyetop perubahan iklim) termasuk tradisi mulia.”

Di sisi lain, aktivis perdamaian veteran, Angie Zelter menganggap tindakan seperti itu hanya salah satu dari berbagai cara untuk menghentikan pemanasan global.

“Kami membutuhkan pelobi, petisi, hingga pawai,” tambahnya.

Sementara itu, profesor Ilmu Politik di Universitas Johns Hopkins, Hahrie Han, yakin demonstrasi iklim akan bertumbuh ketika urgensi sudah lebih jelas. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, para pemimpin perubahan iklim dan gerakan keadilan rasial berpotensi bergandengan tangan.

Dia pun mengamini pernyataan Zelter. Butuh pelbagai bentuk aksi untuk bisa mendorong pemangku kepentingan mengambil langkah yang jelas untuk mengerem perubahan iklim. “Siapapun yang mencoba membuat perubahan harus memiliki ‘banyak alat’ di ‘kotak peralatan’ mereka. Anda pun harus bisa bernegosiasi dengan pembuat keputusan,” jelasnya.

Related Articles