Tanpa Intervensi, Produksi Minyak RI Bisa Susut 24 Persen

Produksi minyak nasional terancam turun hingga 24 persen per tahun tanpa intervensi, sementara gas berpotensi merosot 21 persen akibat tingginya tingkat penurunan alami sumur migas di Indonesia.
PHE sebagai penyumbang utama produksi migas nasional menjalankan strategi agresif pada 2025.
Selain mempertahankan lapangan lama, PHE memperluas eksplorasi melalui akuisisi wilayah kerja baru.
Jakarta, FORTUNE β Produksi minyak bumi nasional berpotensi merosot tajam hingga 24 persen per tahun jika tidak ada intervensi agresif dalam menahan laju penurunan alami pada sumur-sumur produksi. Ancaman ini menjadi tantangan terbesar bagi industri hulu migas domestik, mengingat mayoritas lapangan minyak di Indonesia saat ini telah memasuki fase matang.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Awang Lazuardi, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang disiarkan secara virtual, Senin (25/5). Awang mengungkapkan industri migas Tanah Air tengah menghadapi tekanan berat akibat penurunan alami yang relatif tinggi, baik pada komoditas minyak maupun gas bumi.
βArtinya apa? Jika kita tidak melakukan apa-apa, tidak ada upaya menahan penurunan, maka produksi kita secara alami setiap tahun untuk minyak akan turun 24 persen dan gas turun 21 persen,β ujar Awang.
Dampak dari penurunan alamiah ini dipastikan bakal langsung memengaruhi stabilitas energi makro. Pasalnya, PHE saat ini bertindak sebagai tulang punggung utama sektor hulu migas nasional dengan menyumbang sekitar 65 persen dari total lifting minyak mentah nasional.
Di samping itu, perseroan juga menopang sekitar 35 persen pasokan gas bumi domestik melalui pengelolaan 27 persen Wilayah Kerja (WK) migas di Indonesia. Tanpa langkah mitigasi yang taktis, penyusutan output dari lapangan lama berpotensi menggerus pasokan energi nasional dalam waktu singkat.
Guna meredam volatilitas penurunan tersebut, PHE telah mengeksekusi rangkaian strategi intensif sepanjang 2025. Langkah nyata yang dijalankan meliputi pengeboran hampir 900 sumur pengembangan atau eksploitasi, pelaksanaan lebih dari 1.300 aktivitas workover, serta eksekusi lebih dari 37.000 intervensi sumur.
Upaya tersebut terbukti efektif dalam menjaga stabilitas operasional perusahaan. Sepanjang 2025, total produksi migas grup PHE dipertahankan pada angka 1,03 juta barel setara minyak per hari.
Untuk mengangkat sisa cadangan pada sumur-sumur tua yang produktivitasnya terus menyusut, perseroan mengoptimalkan teknologi peningkatan perolehan minyak atau Enhanced Oil Recovery (EOR). Implementasi teknologi ini difokuskan mulai dari metode injeksi uap (steam injection) hingga injeksi bahan kimia (chemical injection).
Selain memaksimalkan potensi lapangan lama, strategi jangka panjang PHE diarahkan pada perluasan portofolio eksplorasi melalui akuisisi sejumlah wilayah kerja baru. Sepanjang periode 2022β2025, perusahaan mengamankan beberapa WK eksplorasi anyar, antara lain wilayah Binaya, Lavender, dan Bobara. Blok-blok ini diproyeksikan menjadi sumber cadangan masa depan demi menjaga ketahanan energi nasional jangka panjang.
"Alhamdulillah dari periode 2022-2025 kita banyak mendapatkan WK baru. Tentunya ini akan menjadi napas kita ke depan, apabila kita melakukan eksplorasi di sini dan memberikan hasil yang cukup signifikan," kata Awang.
Melengkapi ekspansi tersebut, PHE juga mencatatkan perkembangan positif pada proyek minyak non-konvensional di wilayah Riau. Penemuan cadangan baru dalam skala besar di area tersebut dinilai dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi industri migas nasional, sekaligus mendukung agenda diversifikasi sumber daya energi di Indonesia.

















