Comscore Tracker
SHARIA

Kala Menara Masjid Jadi Kedai Kopi

Ikhtiar pengembangan ekonomi di masjid.

Kala Menara Masjid Jadi Kedai KopiKOMAT di Masjid Raya Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat/Instagram/komatbyisyef

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Bagi umat Islam, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, namun memiliki peran strategis dalam pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi. Sejarah mencatat, Rasulullah SAW menggunakan Masjid Nabawi di Madinah sebagai rumah ibadah, pusat pendidikan, penyelesaian masalah hukum (peradilan), hingga pemberdayaan ekonomi melalui baitul mal (zakat, infak, sedekah).

Kini, Indonesian Youth Economic Forum (ISYEF) mendorong  pemuda dan remaja masjid untuk menjadi wirausahawan dan mandiri finansial. Organisasi ini juga memberikan sarana bagi pemuda untuk belajar menjadi wirausaha melalui ISYEF Point.

Salah satu upayanya dengan meluncurkan ISYEF TOWER sebagai wujud komitmen nyata untuk mengembangkan ekonomi masjid melalui bisnis Kopi Umat (KOMAT). Para jemaah sudah bisa menikmati kopi, makanan, dan minuman di KOMAT sejak 18 Februari 2022.

“Sukses dengan ISYEF Point yang pertama ISYEF meluncurkan ISYEF Tower/Point yang kedua di Masjid Raya Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Dalam hal ini, ISYEF melakukan renovasi tower masjid dan mengalihfungsikannya menjadi kafe Kopi Umat (KOMAT),” kata Ketua Dewan Pembina ISYEF, M. Arief Rosyid Hasan dalam keterangan resmi, dikutip Senin (21/2). 

Arief kemudian mengulas balik sejarah lahirnya budaya menyantap kopi di tengah-tengah pemuda ISYEF. Salah satunya, berasal dari tradisi setiap sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan.

"Kalau kita melihat sejarah, sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, ada satu tradisi yang lekat dalam ingatan adalah ada yang menyeduh kopi dalam teko berukuran besar. Kita harus berterima kasih kepada kelompok sufi Shadhiliyya dari Yaman yang dianggap berjasa mengenalkan budidaya kopi hingga hari ini coffee culture begitu kuat mengakar di tengah masyarakat kita," katanya.

Masjid untuk memperkuat ekonomi umat

Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Putu Rahwidhiyasa yang turut hadir dalam peluncuran kedai kopi tersebut mengapresiasi kinerja ISYEF dalam pengembangan ekonomi masjid.

"Atas nama KNEKS, kami mengapresiasi komitmen ISYEF terhadap pengembangan ekonomi masjid. KNEKS akan selalu menjadi lembaga yang mendukung sepenuhnya bisnis dan kewirausahaan syariah di masjid demi menciptakan wirausaha-wirausaha muda yang lahir dari masjid," tutur Putu.

Sebagai informasi, sebelumnya gerakan pemuda ISYEF juga pernah melakukan hal serupa di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat pada 2018. Setelah adanya sarana untuk berwirausaha, RICMA, sebutan untuk Remaja Masjid Cut Meutia, bisa belajar menjadi wirausaha dan mengaplikasikan pengelolaan keuangan dalam mengembangkan ISYEF Point.

Di samping itu, RICMA juga berhasil mengalokasikan sebagian keuntungan untuk kegiatan dakwah dan menjadi kelompok yang mandiri finansial yang tidak sepenuhnya mengandalkan dana pihak masjid. Berkaca pada kesuksesan ini, ISYEF kembali melakukan hal yang sama pada Masjid Raya Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat dan pemuda di sekitarnya.

ISYEF Point menjadi pusat pemberdayaan masjid dan komunitas remaja masjid melalui unit usaha kedai kopi, makanan, dan minuman. Pendirian ini didasarkan atas konsep wirausaha untuk memakmurkan masjid. Terinspirasi dari fungsi masjid pada zaman Rasulullah, ISYEF Point pun mengusung tujuan yang sama. Tepatnya dalam menjadikan masjid sebagai pusat informasi, pertemuan, kegiatan sosial, dan ekonomi.

Hadir dalam acara peluncuran ini Ketua Umum Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (INKOWAPI), Sharmila Yahya, Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Putu Rahwidhiyasa, DKM Masjid, Ustad Rizky Maulana, Ketua Dewan Pembina ISYEF, M. Arief Rosyid Hasan; serta Ketua Umum ISYEF, Atras Mafazi.

Related Articles