Dengan AI, 27% Pekerja Bisa Menghemat Waktu Kerja 9 Jam Per Minggu

- 27% pekerja bisa menghemat 9 jam kerja per minggu dengan AI
- AI harus diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan auto-pilot
- 5 prinsip pemanfaatan AI: problem framing, struktur berpikir, tugas berulang, co-pilot dialog, human judgment
Jakarta, FORTUNE – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan kerja terus meningkat untuk membantu menyusun laporan, menganalisis data, hingga mempercepat pembuatan konten.
Tak bisa dipungkiri, AI memang membawa efisiensi yang nyata. Survei dari Azumo 2026 menyatakan 27 persen pekerja yang menggunakan AI di tempat kerja mampu menghemat lebih dari 9 jam kerja per minggu berkat pemanfaatan teknologi ini. Angka tersebut menggambarkan potensi besar AI dalam membantu pekerja mengelola waktu dan beban kerja secara lebih efektif.
Di balik kemudahan tersebut, muncul risiko baru untuk menggunakan AI sebagai jalan pintas dengan mengandalkan kecepatan, tanpa benar-benar memikirkan arah. Budaya “shortcut thinking” inilah yang jika dibiarkan, justru berisiko menurunkan kualitas analisis dan pengambilan keputusan.
“Tantangan terbesar dari adopsi AI di dunia kerja bukan pada kecanggihan AI, tetapi pada mindset penggunanya. Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas berpikir dan rasa tanggung jawab justru bisa menurun,” jelas Abi Mangku Nagari sebagai AI Implementation Consultant melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis (29/1).
AI bukan jalan pintas, ini 5 prinsip dalam pemanfaatan AI

Dalam praktiknya, AI memang memberikan dampak paling optimal ketika diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai auto-pilot yang mengambil alih kendali. Untuk itu, Abi mengungkapkan lima prinsip sederhana namun krusial yang dapat menjadi pegangan agar pemanfaatan AI tetap produktif tanpa terjebak pada shortcut thinking.
Pertama, mulai dari problem framing, bukan sekadar prompting. Alih-alih langsung menulis perintah, penting untuk terlebih dahulu mendefinisikan masalah yang ingin diselesaikan. Tanpa kerangka yang jelas, AI memang bisa memberi jawaban cepat, tetapi sering kali bersifat umum dan dangkal.
Kedua, gunakan AI untuk menyusun struktur berpikir, bukan menghasilkan kesimpulan. Abi menjelaskan, AI sangat membantu dalam merapikan alur, mengelompokkan ide, atau memetakan argumen. Namun, keputusan akhir tetap perlu diambil oleh pekerja sebagai pengguna yang memahami konteks dan dampaknya.
Ketiga, alihkan beban tugas berulang pada AI. Abi menyebut, banyak waktu kerja tersita untuk tugas berulang seperti merangkum dokumen atau menyiapkan draft awal. Dengan mengalihkan tugas-tugas ini ke AI, pekerja memiliki ruang lebih besar untuk melakukan analisis, menilai risiko, dan menyusun strategi.
Keempat, posisikan AI sebagai co-pilot yang bisa diajak berdialog. “Output AI sebaiknya dilihat sebagai bahan diskusi, bukan hasil akhir,” kata Abi. Dengan menguji dan mempertanyakan kembali jawabannya, pekerja tetap memegang kendali sekaligus memperluas perspektif.
Kelima, akhiri setiap proses dengan human judgment. Tahap akhir yang tidak dapat diambil alih oleh AI adalah penilaian pekerja terhadap dampak dan konsekuensi dari sebuah output, baik dari sisi akurasi, implikasi bisnis, maupun etika.
Pendekatan inilah yang menjadi benang merah diskusi NgobrAZ, bahwa AI bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban, melainkan siapa yang paling mampu menjaga kualitas berpikir di tengah kemudahan teknologi.


















