Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Biohacking, Tren Kantor Sediakan Mesin Nikotin Demi Produktivitas di Silicon Valley

Biohacking, Tren Kantor Sediakan Mesin Nikotin Demi Produktivitas di Silicon Valley
Kantong nikotin semakin populer di Amerika Serikat/Dok. Shutterstock/Piskova Photo

Jakarta, FORTUNE - Di sejumlah kantor perusahaan teknologi di Amerika Serikat, fasilitas kerja kini tak lagi hanya berupa kopi gratis, ruang permainan, atau makan siang sehat. Beberapa perusahaan justru mulai menyediakan kantong nikotin di mesin penjual otomatis kantor dengan harapan sederhana: membuat karyawan lebih fokus dan produktif.

Melansir Fortune.com, perusahaan teknologi seperti Palantir termasuk yang mencoba pendekatan ini. Produk yang dibagikan bukan rokok atau vape, melainkan kantong nikotin kecil seukuran permen karet yang diletakkan di antara gusi dan pipi. Zat tersebut kemudian diserap langsung ke aliran darah tanpa menghasilkan asap.

Di kantor Palantir di Washington, D.C., startup tembakau Lucy dan Sesh bahkan memasang mesin penjual otomatis bermerek yang berisi produk nikotin. Kantong nikotin tersebut tersedia gratis bagi karyawan dan tamu berusia di atas 21 tahun. Seorang juru bicara Palantir mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa produk tersebut memang disediakan perusahaan dan biayanya ditanggung oleh kantor.

Kehadiran mesin tersebut juga sempat dipamerkan oleh Eliano A. Younes, Head of Strategic Engagement Palantir. Ia mengunggah foto mesin penjual otomatis Lucy di kantor perusahaan melalui platform X dengan keterangan:
“Palantir DC Office 🤝 @LucyNicotine 😵‍💫 🚀.”

Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya tekanan kerja di industri teknologi, terutama sejak kompetisi pengembangan kecerdasan buatan (AI) semakin intens. Bagi sebagian pekerja teknologi, nikotin dianggap membantu menjaga fokus selama jam kerja panjang.

Awalnya, kantong nikotin dipasarkan sebagai alternatif bagi perokok yang ingin berhenti merokok. Namun belakangan produk tersebut mulai muncul sebagai “fasilitas tidak resmi” di kantor Silicon Valley.

Perusahaan seperti Zyn dan On! mempopulerkan produk nikotin tanpa asap yang dinilai lebih praktis dibanding rokok atau vape. Kantong kecil tersebut biasanya disimpan di lemari pendingin kantor atau mesin penjual otomatis, sehingga mudah diakses oleh pekerja. Jika karyawan tidak bisa “ketagihan” pada pekerjaannya, setidaknya mereka bisa dibuat tertarik dengan fasilitas kantor yang disediakan.

Laporan New York Post juga mengungkap bahwa tren ini juga merambah startup yang lebih kecil. Di Austin, Texas, pendiri startup kesehatan berbasis kecerdasan buatan Hello Patient, Alex Cohen, sempat menempatkan lemari pendingin berisi kantong nikotin di kantornya setelah melihat banyak insinyur menggunakan produk serupa di meja kerja. “Mereka memang sangat produktif, jadi saya berpikir, ‘Mungkin ada sesuatu di sini,’” katanya.

Namun eksperimen tersebut justru berakhir dengan pengalaman pribadi yang tak terduga. Cohen mengaku sempat mengonsumsi dua hingga tiga kantong nikotin per hari untuk meningkatkan fokus. “Lalu saya menyadari, saya justru tidak sengaja menjadi kecanduan,” ujarnya.

Fenomena biohacking dan risiko kesehatan

what-are-nicotine-pouches.jpg
Sumber: x.com/eliano

Tren ini berkaitan erat dengan fenomena biohacking yang semakin populer di kalangan pekerja teknologi, yakni upaya meningkatkan performa tubuh dan otak melalui berbagai eksperimen, mulai dari suplemen hingga teknologi kesehatan. Salah satu figur yang sering dikaitkan dengan praktik ini adalah pengusaha teknologi Bryan Johnson, yang dikenal melakukan berbagai eksperimen anti-penuaan, termasuk transfusi plasma dari anak remajanya.

Namun para ahli kesehatan mengingatkan bahwa nikotin tetap memiliki risiko kesehatan serius, meskipun tidak dikonsumsi melalui rokok. “Inilah yang dipromosikan produk baru ini: sebagai alternatif tanpa asap,” tulis Jennifer Cofer dari University of Texas MD Anderson Cancer Center, mengutip Fortune.com. Namun ia menegaskan peringatan penting, bahwa jika tujuan konsumsi adalah terbebas dari kecanduan, kantong nikotin oral bukanlah cara terbaik untuk mencapainya.

Dokter lain juga menyoroti potensi bahaya tren tersebut. Michael Fiore, salah satu pendiri Center for Tobacco Research and Intervention di University of Wisconsin, mengatakan banyak pengguna baru mungkin sebelumnya tidak pernah menggunakan nikotin.

“Individu sering kali berpindah dari satu produk nikotin ke produk lainnya,” katanya mengutip New York Post. Ia juga memperingatkan bahwa kantong nikotin dapat memicu kecanduan pada populasi yang sebelumnya tidak menggunakannya.

Peringatan serupa disampaikan dokter sekaligus pakar kesehatan Peter Attia. “Tidak perlu diragukan lagi, nikotin sangat adiktif,” ujarnya.

Meski demikian, popularitas kantong nikotin terus meningkat di industri teknologi. Persaingan yang semakin ketat dan tuntutan produktivitas tinggi membuat sebagian pekerja teknologi mencari berbagai cara untuk mempertahankan fokus—mulai dari suplemen nootropik hingga praktik biohacking lainnya.

Di tengah tren tersebut, mesin penjual otomatis nikotin di kantor teknologi mungkin menjadi simbol baru dari budaya kerja Silicon Valley: produktivitas tinggi, eksperimen tanpa henti, dan batas tipis antara inovasi dengan risiko kesehatan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Tech

See More

Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Resmi Dirilis Apple!

05 Mar 2026, 12:58 WIBTech