Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Pamer 12 Juta Pelanggan, Musk Janjikan Starlink 100 Kali Lebih Kencang

Pamer 12 Juta Pelanggan, Musk Janjikan Starlink 100 Kali Lebih Kencang
Starlink.com
Intinya Sih
  • Starlink kini memiliki lebih dari 12 juta pelanggan di 160 negara, menjadikannya konstelasi satelit terbesar dengan lebih dari 10.000 unit aktif di orbit Bumi.
  • Elon Musk mengumumkan peluncuran satelit Starlink V3 yang menawarkan bandwidth 100 kali lebih besar dan latensi 50 persen lebih rendah berkat orbit yang diturunkan menjadi sekitar 350 kilometer.
  • Bisnis internet satelit ini menyumbang sekitar 60 persen pendapatan SpaceX senilai US$18,7 miliar pada 2025, mendukung rencana IPO senilai US$75 miliar dengan valuasi mencapai US$1,76 triliun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Layanan internet satelit Starlink terus memperkuat posisinya sebagai salah satu bisnis paling berkembang dalam portofolio SpaceX.

Melansor Yahoo Finance, jaringan yang dibangun Elon Musk tersebut kini telah melayani lebih dari 12 juta pelanggan aktif yang tersebar di lebih dari 160 negara dan wilayah, menandai pertumbuhan pesat bisnis internet berbasis satelit dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu diumumkan melalui unggahan di platform X pada 4 Juni 2026.

Namun bagi Musk, capaian tersebut belum menjadi titik akhir. Pendiri SpaceX itu justru menyiapkan ekspansi yang lebih agresif melalui pengembangan satelit generasi terbaru yang diklaim mampu meningkatkan kapasitas jaringan secara signifikan.

Melalui unggahannya di platform X, Musk mengungkapkan rencana peluncuran satelit Starlink V3. Menurutnya, satelit generasi ketiga tersebut akan memiliki kapasitas bandwidth 10 kali lebih besar dibandingkan versi sebelumnya dan akan diluncurkan dengan frekuensi yang juga meningkat hingga 10 kali lipat.

"Secara efektif, ini akan menghasilkan total bandwidth yang tersedia lebih dari 100 kali lipat dibandingkan apa yang memungkinkan saat ini," kata Musk.

Hingga pertengahan Mei 2026, SpaceX tercatat telah menempatkan lebih dari 10.000 satelit Starlink aktif di orbit Bumi. Jumlah tersebut menjadikan Starlink sebagai konstelasi satelit terbesar yang beroperasi saat ini.

Selain peningkatan kapasitas, Musk juga menjanjikan peningkatan kualitas layanan melalui penurunan ketinggian orbit satelit Starlink V3. Jika saat ini satelit beroperasi pada ketinggian sekitar 550 kilometer, generasi terbaru akan ditempatkan pada orbit sekitar 350 kilometer dari permukaan Bumi.

Langkah tersebut diyakini dapat memangkas latensi atau waktu tunda jaringan hingga sekitar 50 persen, sehingga pengalaman pengguna menjadi lebih responsif, terutama untuk aplikasi yang membutuhkan koneksi real-time.

Peningkatan kapasitas dan pengurangan latensi itu dinilai menjadi fondasi penting bagi perkembangan teknologi masa depan, termasuk kecerdasan buatan dan robotika.

"Masa depan kecerdasan buatan (AI) dan robotik sebenarnya akan menuntut ketersediaan bandwidth yang jauh lebih besar daripada yang kita gunakan sekarang," kata Musk saat berbincang dengan CEO JPMorgan Jamie Dimon dalam presentasi IPO SpaceX.

Starlink kini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar bagi SpaceX. Berdasarkan dokumen regulasi terbaru, bisnis internet satelit tersebut menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan SpaceX yang mencapai US$18,7 miliar atau sekitar Rp306 triliun sepanjang 2025.

Dengan rencana peningkatan kapasitas jaringan secara besar-besaran, SpaceX berharap dapat menarik lebih banyak pelanggan sekaligus memperluas sumber pendapatan perusahaan.

Kinerja keuangan yang kuat tersebut menjadi modal penting bagi SpaceX yang tengah bersiap memasuki pasar modal. Awal pekan ini, perusahaan menetapkan harga IPO sebesar US$135 per saham dan akan menawarkan sekitar 555,6 juta lembar saham kepada investor.

Penawaran tersebut menempatkan valuasi SpaceX di kisaran US$1,76 triliun. Jika seluruh saham terserap pasar, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar sekitar US$75 miliar, menjadikannya salah satu IPO terbesar dalam sejarah pasar modal global.

Meski prospek bisnisnya terlihat menjanjikan, ekspansi Starlink tidak lepas dari berbagai tantangan.

Perusahaan masih menghadapi kritik dari kelompok pemerhati lingkungan, komunitas astronom, hingga sejumlah organisasi masyarakat yang menyoroti dampak keberadaan ribuan satelit di orbit rendah Bumi.

Melansir TechSpot, Salah satu isu yang paling sering disorot adalah polusi cahaya yang ditimbulkan pantulan sinar matahari dari satelit-satelit Starlink, yang dinilai dapat mengganggu pengamatan astronomi.

Selain itu, meningkatnya jumlah satelit di orbit juga memunculkan kekhawatiran mengenai kepadatan ruang angkasa dan risiko tabrakan yang dapat memicu terbentuknya sampah antariksa dalam jumlah besar.

Di sisi operasional, SpaceX juga masih harus menghadapi tantangan teknis dalam meluncurkan ribuan satelit baru secara berkelanjutan. Risiko kegagalan peluncuran roket tetap menjadi faktor yang tidak sepenuhnya dapat dihilangkan.

Meski demikian, dengan basis pelanggan yang terus bertambah dan rencana peningkatan kapasitas jaringan secara agresif, Starlink diproyeksikan tetap menjadi motor pertumbuhan utama SpaceX sekaligus salah satu aset terpenting perusahaan dalam menghadapi era konektivitas digital dan kecerdasan buatan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More