Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Kearney: 8 Realitas AI yang Akan Menentukan Masa Depan Ekonomi RI

Kearney: 8 Realitas AI yang Akan Menentukan Masa Depan Ekonomi RI
Kecerdasan buatan sebagai teknologi yang berpotensi dimanfaatkan untuk hoaks AI voice manipulation. (istockphoto.com)
Intinya Sih
  • Kearney menilai AI akan mengubah fondasi ekonomi global dan Indonesia perlu menyesuaikan model pertumbuhan agar mampu memanfaatkan peluang dari transformasi digital ini.
  • Laporan Kearney mengungkap delapan realitas baru era AI, termasuk hilangnya keunggulan tenaga kerja murah, pentingnya daya komputasi, serta munculnya isu etika dan kedaulatan digital.
  • Bagi Indonesia, keberhasilan di ekonomi AI bergantung pada penguatan ekosistem inovasi, literasi AI, energi bersih, serta kemampuan SDM dalam mengubah teknologi menjadi nilai ekonomi nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan akan mengubah fondasi daya saing ekonomi global. Konsultan manajemen global Kearney menilai Indonesia perlu segera menyesuaikan model pertumbuhan ekonominya agar mampu memanfaatkan peluang yang muncul dari transformasi tersebut.

Dalam laporan bertajuk How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI, Kearney mengidentifikasi delapan realitas baru yang dinilai akan membentuk ulang cara negara menarik investasi, mengembangkan sumber daya manusia, membangun industri, dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.

Laporan tersebut menyebut AI tidak lagi sekadar teknologi pendukung produktivitas, tetapi telah berkembang menjadi kapabilitas ekonomi yang mengubah berbagai asumsi pembangunan yang selama puluhan tahun menjadi acuan banyak negara.

Secara global, AI Generatif diperkirakan mampu memberikan kontribusi ekonomi sebesar US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun setiap tahun. Penerapannya mencakup berbagai bidang, mulai dari layanan pelanggan, pemasaran dan penjualan, pengembangan perangkat lunak, penelitian dan pengembangan, hingga berbagai sektor lainnya. Sejalan dengan itu, investasi global pada infrastruktur AI juga terus meningkat.

Tomoo Sato, Partner at Kearney dan penulis laporan tersebut, mengatakan bahwa AI tidak sekadar memperkenalkan gelombang inovasi teknologi terbaru. AI juga mengubah banyak asumsi yang selama dua dekade terakhir menjadi panduan pembangunan ekonomi.

"Negara yang unggul di era AI bukanlah yang menawarkan biaya terendah atau tenaga kerja terbesar, melainkan yang mampu membangun kapabilitas, infrastruktur, dan ekosistem yang dibutuhkan untuk menciptakan nilai dari AI dalam skala besar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7).

Bagi Indonesia, transformasi AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Selama ini, pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh ketersediaan tenaga kerja dalam jumlah besar serta sektor manufaktur berorientasi ekspor. Namun, otomatisasi dan AI diperkirakan akan mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja di berbagai sektor tersebut.

Sebagai gantinya, Indonesia dinilai perlu memperkuat posisinya pada berbagai bagian rantai nilai AI, seperti layanan digital, operasional berbasis AI, infrastruktur data, hingga manufaktur berteknologi tinggi.

Selain itu, laporan tersebut menilai Indonesia perlu membangun dua fondasi baru, yakni energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya (scalable clean energy) serta pemerataan literasi AI. Kedua aspek tersebut dinilai penting untuk mengubah bonus demografi menjadi sumber inovasi dan daya saing ekonomi jangka panjang.

8 realitas baru

WhatsApp Image 2026-07-14 at 1.38.46 PM (1).jpeg
Dok. Kearney

Untuk membantu para pemimpin menavigasi transisi ini, Kearney mengidentifikasi delapan realitas baru yang mulai membentuk ulang cara negara bersaing dan bertumbuh di era AI:

  1. Tenaga kerja murah bukan lagi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Hal itu karena otomatisasi dan AI menekan kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur maupun jasa, menjadikan keunggulan berbasis biaya rendah tidak lagi menjadi faktor penentu seperti pada siklus pembangunan sebelumnya.
  2. Daya komputasi menjadi aset strategis nasional. Akses terhadap chip, energi, infrastruktur cloud, dan talenta AI semakin menentukan kemampuan suatu negara untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, menjadikan kapasitas komputasi sama pentingnya dengan berbagai sumber daya ekonomi tradisional.
  3. Arus modal terkait AI mulai merombak peta perdagangan dan investasi global. Negara dan kawasan yang menguasai input strategis seperti semikonduktor, pasokan listrik, infrastruktur data, dan talenta khusus berpotensi memperoleh porsi nilai ekonomi yang lebih besar.
  4. Kesenjangan antara AI dan manusia tidak merata di tiap industri dan pasar. Peluang baru muncul di berbagai lapisan rantai nilai AI, membuka ruang bagi negara untuk membangun posisi kompetitif tidak hanya pada pengembangan model AI inti, tetapi juga pada berbagai sektor pendukung lainnya.
  5. AI berkembang pesat melampaui aplikasi teks dan bahasa, merambah ke bidang penglihatan, robotika, dan dunia fisik. Perluasan ini mendorong lonjakan kebutuhan akan perangkat keras, data, energi, dan kemampuan integrasi di seluruh lapisan perekonomian.
  6. Literasi AI menjadi salah satu pengganda produktivitas terbesar yang tersedia bagi organisasi dan perekonomian. Seiring AI semakin terintegrasi ke dalam alur kerja sehari-hari, kemampuan adaptasi tenaga kerja akan semakin menentukan siapa yang mampu menuai manfaat ekonomi terbesar.
  7. Persaingan semakin ketat. AI mempercepat siklus inovasi, meningkatkan transparansi pasar, dan memperkuat persaingan berbasis platform, menciptakan situasi di mana sejumlah kecil pemimpin pasar dapat meraih keunggulan yang sangat signifikan.
  8. Keamanan, etika, dan kedaulatan AI muncul sebagai prioritas strategis. Seiring kemampuan AI terus berkembang, pemerintah dan organisasi perlu menjawab berbagai tantangan terkait tata kelola, regulasi, keamanan siber, kepercayaan publik, serta kendali atas infrastruktur digital yang kritis.

Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, namun keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada lebih dari sekadar adopsi teknologi.

Menurutnya, seiring AI menjadi pendorong utama produktivitas dan penciptaan nilai, negara-negara akan semakin bersaing berdasarkan kualitas sumber daya manusia, kekuatan ekosistem inovasi, infrastruktur digital, serta kemampuan dalam mengubah kapabilitas teknologi menjadi hasil ekonomi yang nyata.

"Sangat penting bagi organisasi yang menghadapi transformasi digital untuk dapat menjembatani kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan tenaga kerjanya," kata Shirley.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More