Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemerintah Lirik Nuklir Sebagai Energi Baru Penopang Lonjakan Data Center

Pemerintah Lirik Nuklir Sebagai Energi Baru Penopang Lonjakan Data Center
Airlangga Airlangga dalam acara 1 Dekade Indonesian Data Center Provider Organization (IDPRO) di Jakarta.
Intinya Sih
  • Pemerintah membahas pemanfaatan energi nuklir, termasuk pembangunan small modular nuclear reactor, untuk memenuhi kebutuhan energi akibat lonjakan pembangunan data center di Indonesia.

  • Airlangga Hartarto menyoroti tantangan geopolitik dan kekhawatiran global terkait pengelolaan serta pengayaan uranium dalam pengembangan energi nuklir di berbagai negara.

  • Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma mendukung opsi nuklir namun menyiapkan Sustainable Data Center Index sebagai panduan keberlanjutan guna mengantisipasi dampak lingkungan dari pertumbuhan data center.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menyebut pemanfaatan nuklir bisa menjadi energi baru di tengah lonjakan pembangunan pusat data atau data center nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan kapasitas data center di Indonesia saat ini mencapai sekitar 637 megawatt (MW). Sementara itu, kapasitas yang masih berada dalam tahap pengembangan (pipeline) diperkirakan mencapai 1,6 gigawatt (GW) hingga tahun depan.

Secara keseluruhan, jumlah pusat data yang telah berdiri di Indonesia hingga kini mencapai 198 fasilitas. Oleh sebab itu, ketersediaan kapasitas energi menjadi kebutuhan penting untuk mengimbangi lonjakan pembangunan pusat data.

"Kami tengah melakukan pembicaraan terkait penyediaan energi untuk pembangunan small modular nuclear reactor. Bapak Presiden ingin agar energy mix ini ikut memasukkan nuklir, dan nuklir energi ini menjadi salah satu energi yang diminati secara global," kata Airlangga dalam acara 1 Dekade Indonesian Data Center Provider Organization (IDPRO) di Jakarta, Rabu (24/6).

Kendati demikian, Airlangga mengungkap adanya kekhawatiran berbagai negara terhadap pengembangan energi nuklir. Sebab, kemampuan mengelola pembangkit listrik berbasis energi nuklir berkaitan dengan kemampuan pengayaan dinilai tidak selalu sejalan dengan dinamika dan kondisi geopolitik yang berkembang saat ini.

Di sisi lain, menurut Airlangga, Indonesia masih memiliki berbagai keunggulan berupa sumber energi domestik (indigenous energy) melimpah untuk pengembangan industri data center. Potensi tersebut berasal dari panas bumi (geothermal, tenaga surya, dan tenaga air.

Pada kesempatan yang sama, Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma setuju bahwa energi nuklir merupakan opsi menarik guna mendukung pemenuhan energi data center. Hanya saja pemanfaatannya masih menghadapi penolakan oleh berbagain pihak. "Tetapi balik lagi kalau energi ini memang banyak unsur politis," katanya.

Namun, untuk mengantisipasi pesatnya pertumbuhan pembangunan data center di Indonesia, pihaknya sedang menyusun Sustainable Data Center Index yang merupakan panduan berbasis keberlanjutan untuk pengembangan data center di Indonesia.

Panduan tersebut hadir didorong oleh pengalaman sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, yang menghadapi berbagai tantangan akibat pembangunan data center yang tidak terkontrol.

Tidak hanya menyebabkan konsumsi sumber daya meningkat, dampaknya juga berkaitan dengan persoalan lingkungan, seperti peningkatan polusi suara, hingga risiko penggunaan air.

Share Article
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More