Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

RI dan Singapura Siapkan Poros Data Center Asia Tenggara

RI dan Singapura Siapkan Poros Data Center Asia Tenggara
Indonesia dan Singapura melaksanakan the 16th Ministerial Meeting of Six Economic Working Groups Indonesia-Singapore (MM 6WG). Pertemuan Tingkat Menteri tersebut dipimpin bersama oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, sebagai Co-chairs dari Pemerintah Indonesia dan Deputy Prime Minister (DPM) and Minister for Trade and Industry Singapura Gan Kim Yong, sebagai Co-chairs dari Pemerintah Singapura. (Dok. Kementerian Koordinator Perekonomian)
Intinya Sih
  • Indonesia dan Singapura sepakat memperkuat kerja sama ekonomi digital dengan mengembangkan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun sebagai poros pusat data regional di Asia Tenggara.
  • Investasi di wilayah BBK meningkat signifikan, diperkuat oleh perluasan Batam Free Trade Zone serta pembangunan kabel bawah laut yang menghubungkan Batam dan Singapura untuk mendukung industri digital lintas negara.
  • Kedua negara juga memperluas kolaborasi di sektor energi hijau, pengembangan talenta digital, serta investasi industri seperti Kendal Industrial Park yang kini memasuki tahap ekspansi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Pemerintah Indonesia dan Singapura sepakat memperdalam jalinan kerja sama pada sektor ekonomi digital. Langkah ini ditempuh dengan mendorong pengembangan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) sebagai bagian dari ekosistem pusat data regional.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam Pertemuan Tingkat Menteri Six Economic Working Groups Indonesia-Singapore (MM 6WG) yang diselenggarakan di Jakarta. Hajatan bilateral ini dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bersama Deputy Prime Minister sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, sebagaimana dikutip Kamis (11/6).

Kedua negara sepakat memperkuat kolaborasi pengembangan rantai pasok industri dan ekonomi digital lewat kawasan BBK. Agenda utama mencakup perluasan kawasan industri strategis hingga penguatan sinergi Singapura–Johor–Riau (SIJORI) sebagai pusat pengolahan data regional.

Kerja sama ini sekaligus menandai pergeseran haluan hubungan ekonomi kedua negara tetangga, yang selama ini didominasi sektor perdagangan konvensional dan manufaktur, menuju sektor ekonomi digital yang mengusung nilai tambah lebih tinggi.

Kawasan Batam memperoleh porsi perhatian khusus dalam rencana besar ini. Grafik realisasi penanaman modal di wilayah BBK mencatat kenaikan signifikan, dari US$4,61 miliar pada 2024 menjadi US$5,71 miliar pada 2025.

Di kawasan tersebut, Nongsa Digital Park terus dipacu sebagai episentrum ekonomi digital baru seiring beroperasinya sejumlah pusat data.

Momentum emas ini kian diperkuat dengan ekspansi kawasan Batam Free Trade Zone. Kebijakan perluasan dari delapan pulau menjadi 22 pulau tersebut kini telah resmi berlaku. Guna mendukung konektivitas, proyek pembangunan kabel bawah laut pemersatu Batam dan Singapura ditargetkan rampung pada akhir tahun ini. Infrastruktur ini diproyeksikan membuka peluang lebih besar bagi industri digital dan layanan data lintas negara.

Dalam pertemuan itu, kedua negara juga meneken kesepakatan studi bersama mengenai sektor teknologi di BBK. Studi ini diharapkan menjadi bantalan pacu bagi pengembangan kawasan tersebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Airlangga menyatakan kerja sama Indonesia dan Singapura terus berkembang. Hubungan ini dinilai makin relevan dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang kian kompleks.

“Indonesia dan Singapura adalah mitra strategis yang memiliki hubungan ekonomi yang erat dan saling menguntungkan dengan kekuatan ekonomi masing-masing yang saling melengkapi. Sinergi tersebut telah menjadi landasan utama bagi keberlanjutan kemitraan kedua negara,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, forum 6WG telah menjelma menjadi instrumen utama dalam menelurkan kerja sama konkret berorientasi hasil. Fokus utamanya mencakup bidang investasi, industri, ekonomi digital, hingga penggemblengan sumber daya manusia.

Di luar pilar digital, rapor hijau juga dicatat pada berbagai bidang kerja sama lainnya:

  • Kendal Industrial Park: Salah satu proyek unggulan investasi kedua negara ini telah mencapai kapasitas penuh dan kini memasuki tahap ekspansi.
  • Energi Hijau: Implementasi nyata diwujudkan melalui cetak biru pembangunan salah satu proyek pembangkit listrik tenaga surya terbesar di Indonesia yang berlokasi di Sulawesi Tengah.
  • Pengembangan Talenta: Jembatan kompetensi diperkuat lewat program Tech dan Youth Mobility Programme guna menggenjot konektivitas tenaga kerja muda di kawasan.

Gan Kim Yong menegaskan kemitraan kedua negara kini mengarah pada kolaborasi yang jauh lebih strategis.

“Saya senang menyampaikan bahwa kondisi kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Singapura semakin kuat dan yang terpenting, semakin menuju ke arah yang tepat,” ujarnya.

Hingga saat ini, Singapura masih kokoh bertengger sebagai investor asing terbesar di Indonesia. Pada 2025, nilai penanaman modal dari negeri jiran tersebut menembus US$17,4 miliar. Dalam jangka waktu lima tahun terakhir, akumulasi investasi Singapura di Indonesia telah menembus US$75,5 miliar dan berkontribusi terhadap penciptaan lebih dari 820.000 lapangan kerja baru.

Sementara itu pada sektor perdagangan, Singapura tetap mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia. Total nilai perdagangan kedua negara mencapai US$32,8 miliar pada akhir 2025. 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More